Rabu, 02 Oktober 2019

Nilai Anjlok



Gendhuk Nicole seorang anak yang pintar di kampungnya. Saking pintarnya, tidak pernah nilai raportnya dibawah angka 8. Nicole akhirnya melanjutkan kuliah perguruan tinggi ke universitas di Solo.

Satu semester berlalu. Sudah menjadi tradisi universitas tersebut setiap mahasiswa baru harus membawa orang tua untuk konseling saat pengambilan Kartu Hasil Studi (KHS).

Gendhuk Nicole mengajak Jon Koplo, ayahnya dari kampung dan oleh Tom Gembus, pamannya.

Mahasiswa beserta orangtua bergiliran dipanggil namanya satu persatu. Tibalah nama Gendhuk Nicole menemui Lady Cempluk, dosen  pembimbing Gendhuk Nicole.






Dengan pede, Jon Koplo masuk ke ruang dosen, memandang segala penjuru ruang dan memberi senyuman kepada setiap dosen.


“Gendhuk Nicole ini anak yang cerdas ya. Belajar lebih giat lagi,” ujae Lady Cempluk sambil menyodorkan KHS kepada Jon Koplo.

Jon Koplo menatap seksama nilai di KHS, membolak-balik kertas yang hanya selembar itu. "ini nilai anakku, Bu?" tanya Koplo heran. "Iya, ini nilai satu semester Gendhuk Nicole, Pak."

"Bagaimana ini, jauh-jauh aku kuliahkan masak mendapat nilai 4. Kamu SMA dulu mendapat 8 atau 9 semua. Sudahlah, SMA lagi saja, Nduk," ucap Jon Koplo kecewa sambil memegang kening.

"Aduh, aku menemani bapakmu ke kota kok nilaimu jelek sekali, malu aku," ujar Tom Gembus menambahi.


Gendhuk Nicole hanya menangis merasa bersalah.


“Sudah.. sudah..! Tenang, ya! Dengar dulu! Nilai atau IP kuliah maksimal 4,00, Pak. Gendhuk Nicole mendapat nilai tertinggi di kelas.” Ucap Lady Cempluk dengan nada agak meninggi.


Jon Koplo memandangi sekelilingnya nyengir.

“Owalah, Gusti... Gusti...”, ujar Koplo.

Dosen lain di ruangan hanya tertawa melihat tingkah keluarga Jon Koplo.

Ezza Tania
Tanjung Karang Timur, Bandar Lampung
  
Dimuat di Koran Solopos edisi  28 September 2019
 

 

15 komentar: