Selasa, 19 Februari 2019

Sang Penakluk Lapangan Hijau

wordpress.com

 Suara bergemuruh para pendukung bergelora di stadion lapangan hijau. Teriakan yel-yel bergema sepanjang babak final kedua tim kesebelasan. 

“Bagaimana kita akan menang, Kapten. Kita tertinggal satu poin.” Arif, kiper kesebelasan timnas U-19 Indonesia menggerutu, menyandarkan keningnya diatas tangan kanannya.
“Sudah sampai difinal saja sudah jauh dari cukup, Kapten. Poin 2-1 sekarang. Satu poin yang kita kejar habis-habisan pada detik-detik terakhir sebelum wasit menyeru peluit istirahat. Sudahlah Kapten, kita lakukan pertahanan saja. toh kita masih jadi juara, juara kedua,” hibur Hamid.

Beberapa detik pertandingan akan dimulai. Babak final paling bergengsi dalam sejarah persepakbolaan Indonesia. Korea Selatan selalu menjadi musuh bebuyutan timnas U-19. Hampir satu dekade Indonesia tidak pernah dapat melampaui jumlah gol tim kesebelasan negeri ginseng itu.

***

Tiga bulan setelah dinyatakan lolos kualifikasi, mengalahkan beberapa negara Asia Tenggara, Indonesia melenggang ke  babak kualifikasi. Fatih menjadi kapten untuk kali pertama ini. Itu cita-citanya. 

Sejak kecil impian Fatih menjadi seorang pesepakbola nasional, membanggakan negara. Ayahnya juga merupakan atlit pesepakbola. Sejak kecil itu pun ia memperhatikan ayahnya ketika latihan dan bertanding. Tekadnya sudah bulat, menjadi pesepakbola harus ia capai. Ia mengikuti berbagai latihan, mulai dari organisasi ekstrakurikuler sepakbola di sekolah hingga komunitas pesepakbola junior. 

Wajah Christiano Ronaldo memenuhi dinding kamarnya. Ruangan 2 x 3 M itu hampir-hampir mirip toko atribut sepakbola.sepatu, bola, kaos jersey, serta piagam-piagam penghargaan terpajang di sudut-sudut kamar. 

 “Keyakinan dan ikhtiar itu berbanding lurus, Nak. Selalu begitu. Keyakinan kepada Allah akan membimbing kita berikhtiar sebaik-baiknya.” Ucap ayah sambil menghabiskan sarapannya.

“Jangan yakin akan menang melawan musuh bila melawan nafsu diri sendiri saja tidak bisa.” Ayah menyeringai, menatap anak semata wayangnya.

“Insya Allah, Ayah,” Fatih mengangguk. Menghabiskan sesuap terakhir serealnya.

“Ayah. Bolehkah aku bertanya?”

“Tentu saja, Nak.”

“Ayah, bagaimana bila ditim kita ada yang tidak yakin?” tanya Fatih.

Ayah  tersenyum. Menyeruput kopi hitam dengan cangkir putih polos. Ia menghela napas, berdiam diri sejenak.

“Nak... Itulah tugasmu sebagai pemimpin. Ibarat sebuah kapal, kamulah nahkodanya. Kamu ke kiri, yang lain akan ke kiri, kamu ke kanan mereka juga akan ke kanan. 

Meski seorang pemimpin, nahkoda juga tidak mungkin melayarkan kapal seorang diri. Ia butuh teknisi untuk membantu mengecek mesin, ia butuh mualim untuk membuat navigasi, butuh klasi,  juru mudi bahkan sampai juru masak,” Jelas ayah. Ia terseyum sumringah. Ada tatapan harapan di matanya. Bila saja usianya masih muda, ia pasti akan bertanding habis-habisan. Hanya satu yang belum ia capai dalam hidupnya, yaitu mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia sebagai juara. Tapi usianya tidak lagi muda. Bahkan terakhir ia pernah dirawat akibat cedera tulang paha.

Tiga bulan. Tidak pernah seharipun Fatih absen dalam latihan. Setiap pagi, sesudah subuh berjamaah ia tunaikan, ia berlari berkeliling komplek perumahannya. Mengayuh sepeda, berlari, dan berbagai pemanasan calf walk, lunge walk, dan back running. Tak pernah lelah. Disela-sela latihan fisiknya, ia memikirkan strategi permainan. Banyak ide-ide yang ia diskusikan bersama pelatihnya.

***

“Tidak teman-teman. Meski sangat sulit, setidaknya kita pernah menjebol gawang mereka.” Ucap Fatih.

“Bagaimana mungkin, Kapten. Untuk menjadi juara kita butuh dua gol. dua gol, Kapten.” Sanggah Ivan.

“Benar, Kapten. Cobalah untuk realistis.”

“Bila kita pernah mencetak 1 poin dari mereka, kita pun pasti bisa melakukannya dua kali lagi. Percayalah,kita bisa melakukannya, teman.”

“Yang kita butuhkan adalah menjaga kesolidan tim kita. Kalahkan rasa takut dan ketidakyakinan. Tanamkan keyakinan bahwa kita mampu menjadi juara. Ingatlah, disana, di tanah air kita, ada jutaan orang yang mendukung dan mengharapkan kita mengibarkan bendera merah putih. Menepis kutukan orang-orang yang mengatakan bahwa Indonesia takkan pernah mengalahkan Korea. Percayalah padaku, aku ingin kita menjadi juara, siap?!”

Fatih meletakkan tangan kanannya kedepan. Rasa percaya dirinya memberikan kobaran semangat api yang mulai padam pada timnya. Satu persatu dari mereka meletakkan tangannya diatas tangan Fatih. Mereka siap bertanding habis-habisan.

Peluit itu melengking. Babak kedua dimulai. Pemain Korsel sangat agresif menyerang. Gelandang-gelandang lincah itu membayang-bayangi Fatih. Merebut bola, mengoper, mendekat ke arah gawang timnas.

Pemain Korsel semakin agresif menyerang. 

“Serang...!!! menyerang...!!!” berkali-kali Fatih mengomandoi. Membangkitkan semangat teman-temannya. 

“Ayo... Kita pasti bisa...!!!

Lima belas menit berlalu tanpa tambahan gol apapun. Para pemain timnas sangat kelelahan. Tergopoh-gopoh merebut bola. Sangat sulit menerobos pertahanan para pemain negeri ginseng itu.

Tiba-tiba... bola yang direbut Fatih dari Kang Tae Hyun, gelandang timnas Korsel melambung sangat tinggi, melewati para pemain yang tertegun. Bola itu tepat mengarah ke gawang timnas Korsel, dan...

“Goooool!!!” semua pendukung timnas berdiri bersorak sorai, memukulkan stik-stik balon, membuat gaduh seisi stadion.

Fatih bersujud syukur. Rasa optimisnya kembali bangkit. Ia kembali berseru kepada teman-temannya untuk segera bersiap, memanfaatkan menit-menit terakhir waktu yang ada.
Gol kedua yang tidak diduga oleh tim Korsel. Membuat mereka bermain ambisius. 

“Ah, sayang sekali terjadi pelanggaran.” Ucap komentator.

Pelanggaran di kotak penalti oleh timnas Korsel. Wasit meniup peluit membuat keputusan penalti.
“Ini adalah kesempatan berharga bagi Timnas. Apakah mampu Kapten Fatih mencetak gol ketiga, menyamakan kedudukan skor timnas Korsel?” seru komentator.

“Bismillah... Tuhanku, perkenankanlah doaku." Fatih mengambil napas panjang. memandang tajam gawang lawan.

Kaki kanan Fatih menendang bola, mengarah ke sisi kiri gawang. Dan akhirnya gol ketiga bagi timnas Indonesia.

“Gol... gol... gol...!!!”

“Sebuah tendangan cantik telah dilemparkan oleh Kapten Fatih. Membuat timnas Indonesia berbali mengungguli timnas Korsel, luar biasa.” Seru komentator.

Suara peluit wasit kembali menjerit. Pertanda waktu telah berakhir. Skor akhir 3-2. Timnas berhasil memenangkan pertandingan, menepis ketakutan para pemain timnas dan merobek anggapan kekalahan timnas.

Fatih bersujud syukur. ia berdiri menengadah ke langit, “Tuhanku, aku tidak pernah kecewa berdoa kepadamu.”

#onedayoneodop
#ReadingChallengeOdop
#Tugaslevel2 
#level2tantangan2

1 komentar: