Sabtu, 09 Februari 2019

Resensi Novel Hujan-Tere Liye



Hujan adalah novel kesepuluh karya Tere Liye yang sudah saya baca sejak akhir November 2018 kemarin. Pertama kali saya membaca novelnya, saya heran mengapa penulis tidak mencantum profilnya. Ya, tidak banyak diketahui tentang Tere Liye. Mungkin penulis tidak ingin mempublikasikan diri dan keluarga.

Sedikit yang saya ketahui tentang Tere Liye. Dia dikenal sebagai novelis, yang saat ini berusia 39 tahun. Tere Liye lahir di Sumatera Selatan dan merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara.

Tere Liye adalah nama penanya, diambil dari Bahasa India yang berarti 'untukmu'. Mungkin itulah mengapa karya-karyanya tak banyak mempublikasikan profilnya diakhir buku, karena hanya ingin berkarya dengan kesederhanaan dan ketulusan, untukmu.

Dalam buku Hujan, sebenarnya kisahnya sederhana. Tentang cinta dua orang insan yang bertemu dalam kondisi menyedihkan. Sejatinya, ini kisah seorang gadis bernama Lail dan pemuda jenius, Esok.

Lail menjadi seorang yatim piatu akibat bencana gempa bumi Gunung Tambora, yang skala kekuatannya 8 VEI. Seluruh keluarganya meninggal. Saking dahsyatnya gempa tersebut, hanya 10% manusia yang masih hidup saat itu. Ditengah kegalauan Lail yang baru berusia tiga belas tahun, seorang anak laki-laki pemberani berusia lima belas tahun menyelamatkan hidupnya. Memberinya warna untuk melalui hidup dihari esok. Esok namanya.

Lail tidak tahu arti perasaannya. Dia hanya menganggap Esok telah baik dan ia bergantung padanya. Bukan sekedar menganggap kakak saja. Ada perasaan ingin lebih dari sekedar kakak. Namun ia tak pernah berani mengungkapkan.

Sampai pada akhirnya, mereka terpisahkan oleh jarak. Esok diadopsi oleh wali kota sedangkan Lail tinggal di panti sosial. Bagaimana kisah Lail menghabiskan waktunya tanpa Esok?

Tuhan memang Maha Baik. Sesegeranya, Lail mendapatkan seorang sahabat yang sangat baik, Maryam namanya. Berbagai suka dan duka mereka habiskan bersama. Namun, perasaan Lail kepada Esok tetap tidak berubah. Perasaan rindu, kenangan yang indah, terlebih saat hujan. Ya, setiap kali hujan, kenangan indah bersama Esok selalu teringat. Itulah mengapa Lail menyukai hujan.

Apakah Esok hanya menganggap Lail hanya sebagai adiknya yang pada akhirnya tidak akan bisa bersama dalam pernikahan? Seperti kisahnya Tania dalam buku Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin?

Ditengah hingar bingar perubahan iklim cuaca yang semakin memburuk, musim hujan sudah tidak lagi datang, bahkan negara tropis turun salju, kisah mereka berlanjut. Tidak mudah. Kisah mereka menemui titik delapan tahun kemudian, tahun 2050.

Menurut hemat saya, buku ini disajikan dengan bahasa yang sederhana, sangat mudah dipahami. Setiap babnya selalu membuat penasaran, akhirnya buku setebal 315 halaman ini mampu saya lahap dalam waktu sehari.

Yang saya suka dari karya-karya Tere Liye adalah pesan-pesan didalamnya. Meski tema Hujan adalah kisah cinta, tetapi sarat dengan pesan moral, sosial, kemanusiaan, dan ketulusan. Buku ini sangat cocok dibaca oleh siapapun. Tidak heran karya Tere Liye sangat ditunggu. Termasuk saat ini, saya yang sedang menunggu Komet 2, lanjutan akhir dari kisah petualang tiga orang sahabat. Selamat membaca karya yang menginspirasi ini.

#ReadingChallengeOdop #OneDayOnePost

8 komentar:

  1. Wah, aku belum baca yang ini ni Mbak

    BalasHapus
  2. Udah pernah baca sejak Jwnuari 2016. Masih inget saat itu ikut PO nya, dsn langsung dibaca begitu tiba di sekolah kala itu. Masih inget juga jalan ceritanya, yang buat aku langsung jatuh cinta sama genre fiksi ilmiah sampai sekarang. 9/10 deh buat bang Tere 😍

    BalasHapus
  3. Saya sudah baca juga novel ini. Dan sempat menitikkan air mata. Aish, saya mah cengeng..hihihi. Tapi menarik ide dari novel ini. Saya suka. Terima kasih atas resensinya. Jadi teringat kembali.

    BalasHapus
  4. Iya. Bukunya bagu. Sy sudah baca.

    BalasHapus
  5. Mbak ezza, aku suka banget sama bukunya

    BalasHapus