Senin, 18 Februari 2019

Biografi Muhammad Al Fatih

bp.blogspot.com

Bismillaahirrohmaanirrohiim...

Sultan Mahmed II atau juga dikenal Sultan Muhammad Al Fatih (30 Maret 1432 – 3 Mei 1481). Muhammad Al Fatih dilahirkan di Edirin pada tanggal 30 Maret 1423 M. saat itu Edirin  adalah pusat kota pemerintahan Dinasti Turki Utsmani.

Muhammad Al Fatih adalah putra dari Sultan Murad II. Dia hidup di masa setelah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (pahlawan perang Salib) 1137 -1193 M. Sultan Muhammad Al Fatih telah diangkat menjadi sultan ketika usianya menginjak 12 Tahun.

Sultan Mahmed II mendapat julukan Al Fatih (Sang Penakluk) karena telah berhasil menaklukkan Konstantinopel pada usia yang masih sangat muda, yakni 21 Tahun. Ia memiliki kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika dan menguasai enam bahasa.

Rasulullah SAW telah memprediksi bahwa Konstantinopel akan ditaklukkan oleh umat Islam.

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].

Muhammad Al Fatih dikenal sebagai seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding, dan tawadhu. Kejayaannya dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum dengan kepemimpinannya. Taktik dan strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga kaedah pemilihan tentaranya. Ia merupakan anak didik Syekh Syamsuddin yang masih merupakan keturunan Abu Bakar As-Siddiq.

Sultan Muhammad Al Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil mengadaptasi manajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani.

Menaklukkan Bizantium

Al Fatih menyiapkan lebih dari empat juta prajurit yang akan mengepung Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng Bizantium, banyak pasukan Utsmani gugur akibat kuatnya pertahanan benteng tersebut. Pengepungan itu berlangsungselama 50 hari. waktu yang cukup menguji kesabaran pasukan Utsmani, menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan mereka.

Pertahanan tangguh dari kerajaan besar Romawi ini terlihat sejak awal. Sebelum musuh mencapai benteng mereka, Bizantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut.

Sultan Muhammad Al Fatih menemukan ide yang ia anggap adalah satu-satunya cara untuk bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosporus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi.

Sultan Muhammad melakukannya dengan cara yang lebih cerdik lagi, ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.

Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang. Mereka sama sekali tidak menduga Sultan Muhammad Al Fatih dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. sebanyak 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat. para pasukan bekerja keras menebangi pohon-pohon ditumbuhi pohon-pohon besar, dan menyeberangkan kapal-kapal. hanya dalam waktu satu malam, pasukan Al Fatih berhasil menyeberangkan kapal-kapal tersebut. seperti hal yang mustahil menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi.

Peperangan dahsyat terjadi. Benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan kematian. Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin.

Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam gugur. Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bersamaan dengan 29 Mei 1453 M, Sultan al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel.

Saat memasuki Konstantinopel, Sultan Muhammad Al Fatih turun dari kudanya lalu sujud sebagai tanda syukur kepada Allah. Setelah itu, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan untuk menggantinya menjadi masjid. Konstantinopel dijadikan sebagai ibu kota, pusat pemerintah Kerajaan Utsmani dan kota ini diganti namanya menjadi Islambul yang berarti negeri Islam, lau akhirnya mengalami perubahan menjadi Istanbul.

Sejak awal penaklukan Konstantinopel, rentetan penaklukkan strategis dilakukan oleh Sultan Muhammad Al Fatih ia membawa pasukannya menahlukkan Balkan, Yunani, Rumania, Albania, Asia Kecil, dll. Bahkan ia telah mempersiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menaklukkan kerajaan Romawi di Italia, akan tetapi kematian telah menghalanginya untuk mewujudkan hal itu.

Peradaban yang Dibangun Pada Masanya

Selain terkenal sebagai jenderal perang dan berhasil memperluas kekuasaan Utsmani melebihi sultan-sultan lainnya, Muhammad al-Fatih juga dikenal sebagai seorang penyair. Ia memiliki diwan, kumpulan syair yang ia buat sendiri.

Sultan Muhammad juga membangun lebih dari 300 masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat pemandian di berbagai wilayah Utsmani. Peninggalannya yang paling terkenal adalah Masjid Sultan Muhammad II dan Jami’ Abu Ayyub al-Anshari.

Wafatnya Sang Penakluk

Pada bulan Rabiul Awal tahun 886 H/1481 M, Sultan Muhammad al-Fatih pergi dari Istanbul untuk berjihad, padahal ia sedang dalam kondisi tidak sehat. Di tengah perjalanan, sakit yang ia derita kian parah dan berat. Dokter pun didatangkan untuk mengobatinya. Namun dokter dan obat tidak lagi bermanfaat bagi sang Sultan, ia pun wafat di tengah pasukannya pada hari Kamis, tanggal 4 Rabiul Awal 886 H/3 Mei 1481 M.

Saat itu Sultan Muhammad berusia 52 tahun dan memerintah selama 31 tahun. Ada yang mengatakan wafatnya Sultan Muhammad al-Fatih karena diracuni oleh dokter pribadinya Ya’qub Basya, Allahu a’lam.

Sebelum wafat, Muhammad al-Fatih mewasiatkan kepada putra dan penerus tahtanya, Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan benar-benar menjaga agama baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan.

#onedayonepost
#ReadingChallengeOdop
#Tantanganlevel2
#level2tantangan1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar