Kamis, 28 Februari 2019

Tantangan 2 RCO Batch 3


Assalamu'alaikum...
Hi, Kawans, sudah lama tak menyapa. Semoga semuanya baik-baik saja.

Hari ini terakhir mengumpulkan tantangan kedua Reading Challenge ODOP (RCO)  Batch 3. Baru sempat mengerjakannya dihari terakhir. Padahal sudah diberi waktu lebih dari challenge yang pertama. Dasar deadliner! Jangan ditiru yah.

Kawans. Gue pengen cerita sedikit. Agak dramatis memang, tapi beruntungnya masih sempat mengerjakan tugas ini. Hikss..

Ba'da maghrib tadi, tepat sampai di rumah setelah pulang kerja. Tadi terlambat sampai rumah karena berburu cumi-cumi murah di desa sebelah. Sampai di rumah, mandi dan siap-siap mau shalat. Betapa kagetnya pas gue keluar dari kamar, air sudah tergenang di dapur. Wow! I'm very surprised! Ternyata hujan deras yang hanya beberapa menit menyebabkan talang air dapur penuh dan air langsung tumpah dari atap seperti bah. Beruntungnya dapur lebih rendah dari ruang tamu depan, sehingga banjir hanya sampai disitu. Beruntungnya lagi, hujan cuma setengah jam, dan seketika langsung reda. Alhamdulillah. Nggak kebayang kalo hujannya lebih lama lagi, mungkin bisa menenggelamkan penghuninya. Wkwkwk... Lebay. Tapi gara-gara itu, Kawans, dapur gue jadi berantakan. Semuanya basah dan ini masih belum selesai beres-beres. Begitulah repotnya tinggal sendiri (jadi curhat kan). 

Well, cuma intermezzo, yang nggak ada hubungannya sama sekali dengan tantangan kedua. Hehee...

Kawans... Tantangan kedua RCO Batch tiga adalah apakah kita pernah membaca buku sejarah dengan tema yang sama dan membandingkannya?

Tema buku sejarah yang gue pilih adalah sejarah Al Aqsa.

Sebelumnya gue belum pernah membaca buku tentang Al Aqsa, jadi belum bisa membandingkan apakah ada perbedaannya. Tapi sedikit yang ingin gue sampaikan, bahwa buku yang lagi gue baca ini ada banyak hal menarik yang selama ini belum terungkap. Misalnya saja nama Yerussalem yang sebelumnya bernama Ofel. Ditulis pula twntang dinasti-dinasti dan keturunan-keturunan nabi yang peenah menginjakkan kaki di bumi Yerusalem.

Buku ini juga tersusun sistematis. Sehingga bisa memudahkan pembaca untuk memahami kisah sejarahnya.

Kekurangan dari buku ini, ada banyak bahasan yang diulang-ulang. Jadi sempat menggumam, "Kayaknya yang ini udah dibaca, deh". 😅 Terdapat juga beberapa typo (salah ketik).

Tapi dibalik sedikit kekurangan itu, buku ini wajib pake banget untuk dibaca. Why? Karena banyak banget misteri yang bakal diungkap tentang tanah nan suci dan mulia, Al Aqsa.

Membaca buku sejarah membuat gue membuka mat bahwa banyak banget hal-hal yang belum gue ketahui. Benar pepatah bilang, "Buku adalah jendela dunia". Bersyukur juga bisa join digrup RCO, jadi semangat mau konsisten baca. 😂

Udah, gitu aja. Terima kasih sudah mau baca. Hehee (harap maklum, lagi panik), tulisannya jadi berantakan. Doakan semoga besok-besok nggak banjir lagi. Aamiin...

Wassalamu'alaikum..

Tanjung Sari, Natar, 28-02-19

#ReadingChallengeOdop
#OneDayOnePost

Selasa, 19 Februari 2019

Sang Penakluk Lapangan Hijau

wordpress.com

 Suara bergemuruh para pendukung bergelora di stadion lapangan hijau. Teriakan yel-yel bergema sepanjang babak final kedua tim kesebelasan. 

“Bagaimana kita akan menang, Kapten. Kita tertinggal satu poin.” Arif, kiper kesebelasan timnas U-19 Indonesia menggerutu, menyandarkan keningnya diatas tangan kanannya.
“Sudah sampai difinal saja sudah jauh dari cukup, Kapten. Poin 2-1 sekarang. Satu poin yang kita kejar habis-habisan pada detik-detik terakhir sebelum wasit menyeru peluit istirahat. Sudahlah Kapten, kita lakukan pertahanan saja. toh kita masih jadi juara, juara kedua,” hibur Hamid.

Beberapa detik pertandingan akan dimulai. Babak final paling bergengsi dalam sejarah persepakbolaan Indonesia. Korea Selatan selalu menjadi musuh bebuyutan timnas U-19. Hampir satu dekade Indonesia tidak pernah dapat melampaui jumlah gol tim kesebelasan negeri ginseng itu.

***

Tiga bulan setelah dinyatakan lolos kualifikasi, mengalahkan beberapa negara Asia Tenggara, Indonesia melenggang ke  babak kualifikasi. Fatih menjadi kapten untuk kali pertama ini. Itu cita-citanya. 

Sejak kecil impian Fatih menjadi seorang pesepakbola nasional, membanggakan negara. Ayahnya juga merupakan atlit pesepakbola. Sejak kecil itu pun ia memperhatikan ayahnya ketika latihan dan bertanding. Tekadnya sudah bulat, menjadi pesepakbola harus ia capai. Ia mengikuti berbagai latihan, mulai dari organisasi ekstrakurikuler sepakbola di sekolah hingga komunitas pesepakbola junior. 

Wajah Christiano Ronaldo memenuhi dinding kamarnya. Ruangan 2 x 3 M itu hampir-hampir mirip toko atribut sepakbola.sepatu, bola, kaos jersey, serta piagam-piagam penghargaan terpajang di sudut-sudut kamar. 

 “Keyakinan dan ikhtiar itu berbanding lurus, Nak. Selalu begitu. Keyakinan kepada Allah akan membimbing kita berikhtiar sebaik-baiknya.” Ucap ayah sambil menghabiskan sarapannya.

“Jangan yakin akan menang melawan musuh bila melawan nafsu diri sendiri saja tidak bisa.” Ayah menyeringai, menatap anak semata wayangnya.

“Insya Allah, Ayah,” Fatih mengangguk. Menghabiskan sesuap terakhir serealnya.

“Ayah. Bolehkah aku bertanya?”

“Tentu saja, Nak.”

“Ayah, bagaimana bila ditim kita ada yang tidak yakin?” tanya Fatih.

Ayah  tersenyum. Menyeruput kopi hitam dengan cangkir putih polos. Ia menghela napas, berdiam diri sejenak.

“Nak... Itulah tugasmu sebagai pemimpin. Ibarat sebuah kapal, kamulah nahkodanya. Kamu ke kiri, yang lain akan ke kiri, kamu ke kanan mereka juga akan ke kanan. 

Meski seorang pemimpin, nahkoda juga tidak mungkin melayarkan kapal seorang diri. Ia butuh teknisi untuk membantu mengecek mesin, ia butuh mualim untuk membuat navigasi, butuh klasi,  juru mudi bahkan sampai juru masak,” Jelas ayah. Ia terseyum sumringah. Ada tatapan harapan di matanya. Bila saja usianya masih muda, ia pasti akan bertanding habis-habisan. Hanya satu yang belum ia capai dalam hidupnya, yaitu mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia sebagai juara. Tapi usianya tidak lagi muda. Bahkan terakhir ia pernah dirawat akibat cedera tulang paha.

Tiga bulan. Tidak pernah seharipun Fatih absen dalam latihan. Setiap pagi, sesudah subuh berjamaah ia tunaikan, ia berlari berkeliling komplek perumahannya. Mengayuh sepeda, berlari, dan berbagai pemanasan calf walk, lunge walk, dan back running. Tak pernah lelah. Disela-sela latihan fisiknya, ia memikirkan strategi permainan. Banyak ide-ide yang ia diskusikan bersama pelatihnya.

***

“Tidak teman-teman. Meski sangat sulit, setidaknya kita pernah menjebol gawang mereka.” Ucap Fatih.

“Bagaimana mungkin, Kapten. Untuk menjadi juara kita butuh dua gol. dua gol, Kapten.” Sanggah Ivan.

“Benar, Kapten. Cobalah untuk realistis.”

“Bila kita pernah mencetak 1 poin dari mereka, kita pun pasti bisa melakukannya dua kali lagi. Percayalah,kita bisa melakukannya, teman.”

“Yang kita butuhkan adalah menjaga kesolidan tim kita. Kalahkan rasa takut dan ketidakyakinan. Tanamkan keyakinan bahwa kita mampu menjadi juara. Ingatlah, disana, di tanah air kita, ada jutaan orang yang mendukung dan mengharapkan kita mengibarkan bendera merah putih. Menepis kutukan orang-orang yang mengatakan bahwa Indonesia takkan pernah mengalahkan Korea. Percayalah padaku, aku ingin kita menjadi juara, siap?!”

Fatih meletakkan tangan kanannya kedepan. Rasa percaya dirinya memberikan kobaran semangat api yang mulai padam pada timnya. Satu persatu dari mereka meletakkan tangannya diatas tangan Fatih. Mereka siap bertanding habis-habisan.

Peluit itu melengking. Babak kedua dimulai. Pemain Korsel sangat agresif menyerang. Gelandang-gelandang lincah itu membayang-bayangi Fatih. Merebut bola, mengoper, mendekat ke arah gawang timnas.

Pemain Korsel semakin agresif menyerang. 

“Serang...!!! menyerang...!!!” berkali-kali Fatih mengomandoi. Membangkitkan semangat teman-temannya. 

“Ayo... Kita pasti bisa...!!!

Lima belas menit berlalu tanpa tambahan gol apapun. Para pemain timnas sangat kelelahan. Tergopoh-gopoh merebut bola. Sangat sulit menerobos pertahanan para pemain negeri ginseng itu.

Tiba-tiba... bola yang direbut Fatih dari Kang Tae Hyun, gelandang timnas Korsel melambung sangat tinggi, melewati para pemain yang tertegun. Bola itu tepat mengarah ke gawang timnas Korsel, dan...

“Goooool!!!” semua pendukung timnas berdiri bersorak sorai, memukulkan stik-stik balon, membuat gaduh seisi stadion.

Fatih bersujud syukur. Rasa optimisnya kembali bangkit. Ia kembali berseru kepada teman-temannya untuk segera bersiap, memanfaatkan menit-menit terakhir waktu yang ada.
Gol kedua yang tidak diduga oleh tim Korsel. Membuat mereka bermain ambisius. 

“Ah, sayang sekali terjadi pelanggaran.” Ucap komentator.

Pelanggaran di kotak penalti oleh timnas Korsel. Wasit meniup peluit membuat keputusan penalti.
“Ini adalah kesempatan berharga bagi Timnas. Apakah mampu Kapten Fatih mencetak gol ketiga, menyamakan kedudukan skor timnas Korsel?” seru komentator.

“Bismillah... Tuhanku, perkenankanlah doaku." Fatih mengambil napas panjang. memandang tajam gawang lawan.

Kaki kanan Fatih menendang bola, mengarah ke sisi kiri gawang. Dan akhirnya gol ketiga bagi timnas Indonesia.

“Gol... gol... gol...!!!”

“Sebuah tendangan cantik telah dilemparkan oleh Kapten Fatih. Membuat timnas Indonesia berbali mengungguli timnas Korsel, luar biasa.” Seru komentator.

Suara peluit wasit kembali menjerit. Pertanda waktu telah berakhir. Skor akhir 3-2. Timnas berhasil memenangkan pertandingan, menepis ketakutan para pemain timnas dan merobek anggapan kekalahan timnas.

Fatih bersujud syukur. ia berdiri menengadah ke langit, “Tuhanku, aku tidak pernah kecewa berdoa kepadamu.”

#onedayoneodop
#ReadingChallengeOdop
#Tugaslevel2 
#level2tantangan2

Senin, 18 Februari 2019

Biografi Muhammad Al Fatih

bp.blogspot.com

Bismillaahirrohmaanirrohiim...

Sultan Mahmed II atau juga dikenal Sultan Muhammad Al Fatih (30 Maret 1432 – 3 Mei 1481). Muhammad Al Fatih dilahirkan di Edirin pada tanggal 30 Maret 1423 M. saat itu Edirin  adalah pusat kota pemerintahan Dinasti Turki Utsmani.

Muhammad Al Fatih adalah putra dari Sultan Murad II. Dia hidup di masa setelah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (pahlawan perang Salib) 1137 -1193 M. Sultan Muhammad Al Fatih telah diangkat menjadi sultan ketika usianya menginjak 12 Tahun.

Sultan Mahmed II mendapat julukan Al Fatih (Sang Penakluk) karena telah berhasil menaklukkan Konstantinopel pada usia yang masih sangat muda, yakni 21 Tahun. Ia memiliki kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika dan menguasai enam bahasa.

Rasulullah SAW telah memprediksi bahwa Konstantinopel akan ditaklukkan oleh umat Islam.

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].

Muhammad Al Fatih dikenal sebagai seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding, dan tawadhu. Kejayaannya dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum dengan kepemimpinannya. Taktik dan strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga kaedah pemilihan tentaranya. Ia merupakan anak didik Syekh Syamsuddin yang masih merupakan keturunan Abu Bakar As-Siddiq.

Sultan Muhammad Al Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil mengadaptasi manajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani.

Menaklukkan Bizantium

Al Fatih menyiapkan lebih dari empat juta prajurit yang akan mengepung Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng Bizantium, banyak pasukan Utsmani gugur akibat kuatnya pertahanan benteng tersebut. Pengepungan itu berlangsungselama 50 hari. waktu yang cukup menguji kesabaran pasukan Utsmani, menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan mereka.

Pertahanan tangguh dari kerajaan besar Romawi ini terlihat sejak awal. Sebelum musuh mencapai benteng mereka, Bizantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut.

Sultan Muhammad Al Fatih menemukan ide yang ia anggap adalah satu-satunya cara untuk bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosporus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi.

Sultan Muhammad melakukannya dengan cara yang lebih cerdik lagi, ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.

Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang. Mereka sama sekali tidak menduga Sultan Muhammad Al Fatih dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. sebanyak 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat. para pasukan bekerja keras menebangi pohon-pohon ditumbuhi pohon-pohon besar, dan menyeberangkan kapal-kapal. hanya dalam waktu satu malam, pasukan Al Fatih berhasil menyeberangkan kapal-kapal tersebut. seperti hal yang mustahil menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi.

Peperangan dahsyat terjadi. Benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan kematian. Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin.

Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam gugur. Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bersamaan dengan 29 Mei 1453 M, Sultan al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel.

Saat memasuki Konstantinopel, Sultan Muhammad Al Fatih turun dari kudanya lalu sujud sebagai tanda syukur kepada Allah. Setelah itu, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan untuk menggantinya menjadi masjid. Konstantinopel dijadikan sebagai ibu kota, pusat pemerintah Kerajaan Utsmani dan kota ini diganti namanya menjadi Islambul yang berarti negeri Islam, lau akhirnya mengalami perubahan menjadi Istanbul.

Sejak awal penaklukan Konstantinopel, rentetan penaklukkan strategis dilakukan oleh Sultan Muhammad Al Fatih ia membawa pasukannya menahlukkan Balkan, Yunani, Rumania, Albania, Asia Kecil, dll. Bahkan ia telah mempersiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menaklukkan kerajaan Romawi di Italia, akan tetapi kematian telah menghalanginya untuk mewujudkan hal itu.

Peradaban yang Dibangun Pada Masanya

Selain terkenal sebagai jenderal perang dan berhasil memperluas kekuasaan Utsmani melebihi sultan-sultan lainnya, Muhammad al-Fatih juga dikenal sebagai seorang penyair. Ia memiliki diwan, kumpulan syair yang ia buat sendiri.

Sultan Muhammad juga membangun lebih dari 300 masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat pemandian di berbagai wilayah Utsmani. Peninggalannya yang paling terkenal adalah Masjid Sultan Muhammad II dan Jami’ Abu Ayyub al-Anshari.

Wafatnya Sang Penakluk

Pada bulan Rabiul Awal tahun 886 H/1481 M, Sultan Muhammad al-Fatih pergi dari Istanbul untuk berjihad, padahal ia sedang dalam kondisi tidak sehat. Di tengah perjalanan, sakit yang ia derita kian parah dan berat. Dokter pun didatangkan untuk mengobatinya. Namun dokter dan obat tidak lagi bermanfaat bagi sang Sultan, ia pun wafat di tengah pasukannya pada hari Kamis, tanggal 4 Rabiul Awal 886 H/3 Mei 1481 M.

Saat itu Sultan Muhammad berusia 52 tahun dan memerintah selama 31 tahun. Ada yang mengatakan wafatnya Sultan Muhammad al-Fatih karena diracuni oleh dokter pribadinya Ya’qub Basya, Allahu a’lam.

Sebelum wafat, Muhammad al-Fatih mewasiatkan kepada putra dan penerus tahtanya, Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan benar-benar menjaga agama baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan.

#onedayonepost
#ReadingChallengeOdop
#Tantanganlevel2
#level2tantangan1

Sabtu, 09 Februari 2019

Resensi Novel Hujan-Tere Liye



Hujan adalah novel kesepuluh karya Tere Liye yang sudah saya baca sejak akhir November 2018 kemarin. Pertama kali saya membaca novelnya, saya heran mengapa penulis tidak mencantum profilnya. Ya, tidak banyak diketahui tentang Tere Liye. Mungkin penulis tidak ingin mempublikasikan diri dan keluarga.

Sedikit yang saya ketahui tentang Tere Liye. Dia dikenal sebagai novelis, yang saat ini berusia 39 tahun. Tere Liye lahir di Sumatera Selatan dan merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara.

Tere Liye adalah nama penanya, diambil dari Bahasa India yang berarti 'untukmu'. Mungkin itulah mengapa karya-karyanya tak banyak mempublikasikan profilnya diakhir buku, karena hanya ingin berkarya dengan kesederhanaan dan ketulusan, untukmu.

Dalam buku Hujan, sebenarnya kisahnya sederhana. Tentang cinta dua orang insan yang bertemu dalam kondisi menyedihkan. Sejatinya, ini kisah seorang gadis bernama Lail dan pemuda jenius, Esok.

Lail menjadi seorang yatim piatu akibat bencana gempa bumi Gunung Tambora, yang skala kekuatannya 8 VEI. Seluruh keluarganya meninggal. Saking dahsyatnya gempa tersebut, hanya 10% manusia yang masih hidup saat itu. Ditengah kegalauan Lail yang baru berusia tiga belas tahun, seorang anak laki-laki pemberani berusia lima belas tahun menyelamatkan hidupnya. Memberinya warna untuk melalui hidup dihari esok. Esok namanya.

Lail tidak tahu arti perasaannya. Dia hanya menganggap Esok telah baik dan ia bergantung padanya. Bukan sekedar menganggap kakak saja. Ada perasaan ingin lebih dari sekedar kakak. Namun ia tak pernah berani mengungkapkan.

Sampai pada akhirnya, mereka terpisahkan oleh jarak. Esok diadopsi oleh wali kota sedangkan Lail tinggal di panti sosial. Bagaimana kisah Lail menghabiskan waktunya tanpa Esok?

Tuhan memang Maha Baik. Sesegeranya, Lail mendapatkan seorang sahabat yang sangat baik, Maryam namanya. Berbagai suka dan duka mereka habiskan bersama. Namun, perasaan Lail kepada Esok tetap tidak berubah. Perasaan rindu, kenangan yang indah, terlebih saat hujan. Ya, setiap kali hujan, kenangan indah bersama Esok selalu teringat. Itulah mengapa Lail menyukai hujan.

Apakah Esok hanya menganggap Lail hanya sebagai adiknya yang pada akhirnya tidak akan bisa bersama dalam pernikahan? Seperti kisahnya Tania dalam buku Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin?

Ditengah hingar bingar perubahan iklim cuaca yang semakin memburuk, musim hujan sudah tidak lagi datang, bahkan negara tropis turun salju, kisah mereka berlanjut. Tidak mudah. Kisah mereka menemui titik delapan tahun kemudian, tahun 2050.

Menurut hemat saya, buku ini disajikan dengan bahasa yang sederhana, sangat mudah dipahami. Setiap babnya selalu membuat penasaran, akhirnya buku setebal 315 halaman ini mampu saya lahap dalam waktu sehari.

Yang saya suka dari karya-karya Tere Liye adalah pesan-pesan didalamnya. Meski tema Hujan adalah kisah cinta, tetapi sarat dengan pesan moral, sosial, kemanusiaan, dan ketulusan. Buku ini sangat cocok dibaca oleh siapapun. Tidak heran karya Tere Liye sangat ditunggu. Termasuk saat ini, saya yang sedang menunggu Komet 2, lanjutan akhir dari kisah petualang tiga orang sahabat. Selamat membaca karya yang menginspirasi ini.

#ReadingChallengeOdop #OneDayOnePost