Kamis, 22 November 2018

Rokok Mengancam Generasi Milenial

Ilustrasi gambar: idntimes.com

“Merokok Membunuhmu”. Itulah tagline di setiap bungkus rokok, spanduk, baliho, ataupun iklan di televisi. Dengan tulisan yang besar juga dilengkapi gambar ilustrasi penderita akibat merokok, ternyata tidak mengurungkan penggunanya untuk tetap membeli dan mengonsumsinya. Dari tahun ke tahun, jumlah perokok di Indonesia semakin meningkat.

Rokok telah membelenggu banyak lapisan masyarakat di Indonesia. Tidak hanya orang dewasa saja, tetapi membudaya dan menjadi kebiasaan para remaja. Rokok dikalangan pelajar seakan menyimpul pertemanan baik. Meski telah dilarang oleh pihak sekolah ataupun orangtua, pelajar yang sudah mencoba merokok akan melakukan kebiasaannya berulang-ulang bahkan secara sembunyi.

Tidak ada asap maka tidak ada api. Anak-anak yang mencoba merokok atau menjadi perokok pemula tentu ada penyebabnya. Anak-anak yang mulai merokok mencontoh bapaknya yang perokok. Sebab orangtua merupakan contoh model bagi anaknya.  Bahkan, sudah jadi pemandangan yang biasa seorang bapak menggendong anaknya yang masih kecil sambil merokok. Hal ini juga dapat dengan mudah diamati oleh para pelajar. Apalagi remaja yang sedang mencari jati diri. Remaja biasanya senang mencoba hal-hal baru, misalnya rokok.

Ditambah lagi, iklan rokok di televisi yang ‘inspiratif’. Dalam iklan tersebut digambarkan laki-laki sukses, macho, dan disukai banyak perempuan. Hal ini mendorong remaja tertarik merokok, sebab menurut mereka dengan merokok mereka merasa macho.

Merokok bagi pelajar sangat berbahaya bagi kesehatan dan moral generasi muda. Tentu saja kandungan-kandungan yang ada dalam rokok akan merusak tubuh si perokok terutama organ-organ vital seperti jantung, hati, dan paru-paru. Tidak hanya kesehatan yang terancam namun juga kerusakan moral pelajar. Misalnya saja ketika si pelajar meminta uang jajan kepada orangtuanya dengan alasan ada pembayaran tertentu, seperti membeli buku atau membayar SPP. Padahal, uang yang diminta tersebut hanya untuk mengamini hasrat merokoknya. Selain itu pula, seorang pelajar yang sudah merokok, sampai dewasa bisa dipastikan terus merokok karena efek candu dari rokok tersebut.

Berdasarkan Survey Indikator Nasional (Sirkesnas) 2016, jumlah perokok pemula diketahui meningkat dari 7,2 % pada tahun 2013 menjadi 8,8 % pada 2016.

Selaras pula dengan data Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan  Anak yang menunjukkan jumlah perokok anak dibawah umur 10 tahun mencapai 239.000 orang. 19,8 % pertama kali mencoba rokok sebelum usia 10 tahun dan hampir 88,6 % pertama kalinya mencoba dibawah usia 13 tahun. 

Merokok telah menjadi ancaman tersendiri. Berdasarkan hasil riset Atlas Tobacco, Indonesia menduduki peringkat ketiga dengan jumlah perokok terbanyak di dunia, setelah China dan India, yakni mencapai 90 juta jiwa pada 2016.

Merokok tidak bisa dianggap remeh. Harus ada upaya dari berbagai pihak, baik para pendidik, orangtua, dan pemerintah harus serius menangani persoalan ini. Karena rokok akan mengancam kesehatan dan mental generasi. Betapa sangat disayangkan bila generasi muda yang merupakan harapan bangsa dan keluarga justru memiliki mental dan perilaku buruk akibat penggunaan rokok.

#opinipendidikan
#ezzatania


Tidak ada komentar:

Posting Komentar