Rabu, 14 November 2018

Review Film: Every Child is Special


Saya termasuk penggemar film Bollywood (film India). Kalau film Hollywood (barat) lebih banyak menceritakan tentang aksi, kecanggihan robot dan teknologi, menurut saya, film India lebih banyak menyentuh tentang motivasi dan humanis. Setujukah? (Ah, mungkin ini menurut saya yaa).

Meski film ini sudah lawas sekitar tahun 2007, saya baru menontonnya saat baru masih kuliah, tahun 2011 atau 2012 dulu. Ada kakak senior saya yang memberikan file film ini. “Tonton, dik. Film ini bagus” katanya sambil menyodorkan laptop untuk dipinjami juga. Tak menunggu lama, saya mengajak teman saya menonton di kamar kost kami. 

Taare Zameen Paar yang berarti ‘Seperti bintang-bintang di langit’. Menceritakan kisah seorang anak berusia delapan tahun atau kelas III sekolah dasar, namanya Ishaan Nandkishore Awasthi (Darsheel Safary).
Sekilas, Ishaan tampak sama seperti anak-anak lainnya, bermain, berkomunikasi, belajar, dan lain-lain. Namun Ishaan selalu saja dibully oleh teman-temannya di sekolah. Bahkan Ishaan mendapat julukan ‘idiot’. Menurut kebanyakan orang, Ishaan sangat berbeda dengan kakaknya, Yohaan (Sachet Engineer). Yohaan sang juara kelas juga pemain tenis junior berbakat, membuat bangga ayahnya.

Buku-buku pelajaran Ishaan selalu saja mendapat banyak coretan silang merah. Mulai dari pelajaran Bahasa, Matematika, Sejarah, dan pelajaran lainnya. Tak ada satu pun guru yang bersahabat dengannya. Ishaan menjadi benci pelajaran-pelajaran itu. Dia bahkan terpaksa berbohong sakit agar dia terhindar dari belajar di sekolah.

Suatu hari, orangtua Ishaan dipanggil kepala sekolah. Sekolah mempertimbangkan bahwa Ishaan tidak memiliki kemajuan sama sekali. Ishaan juga kerap berkelahi dengan temannya. Akhirnya dengan berat hati ayah Ishaan, Nandikshore Awasthi (Denis Sharma) memasukkan Ishaan ke Boarding School (sekolah asrama).

Setelah keluarga Ishaan mengantarkannya, perpisahan keluarga yang mengharukan. ibunya, Maya Awasthi (Tisca Chopra) tidak tega melepas anak bungsunya di asrama. Ia tahu betul bahwa Ishaan amat sangat tergantung padanya. Mandi, ibunya yang memandikan, memakaikan Ishaan pakaian sekolah, memasang dasi, sampai dengan mengikat tali sepatu. Airmata Maya terus berurai.


Hari-hari semakin sulit bagi Ishaan. Dia menjadi banyak melamun dan menangis. Ia putus asa. Dia tidak lagi menggambar dan melukis yang merupakan hobinya. Hidupnya datar, hari-hari yang sulit.

Sampai suatu hari, seorang guru kesenian, Ram Shankar Nikumbh (Aamir Khan) mengubah segalanya. Dia yang pertama kali mengetahui bahwa Ishaan menderita Dislexia (kesulitan membaca dan menulis). Banyak huruf-huruf tertukar-tukar. Huruf b-d, a-e, sir, ris, dan lain-lain. Memang setiap kali guru menerangkan pelajaran dan menuliskan huruf dan angka-angka di papan tulis, huruf dan angka itu menari-nari, terbang di planet-planet imajinasi Ishaan.
 


Nikumbh mengubah paradigma bahwa semua anak memiliki keistimewaan. Ternyata Nikumbh juga saat kecil adalah penderita Dislexia. Dia akhirnya yang membangkitkan Ishaan kembali mendapatkan kepercayaan diri. Bagaimana Nikumbh, seorang penderita Dislexia dapat mengubah Ishaan sedangkan guru-guru lain berputus asa dengannya?

Saya sempat menangis menonton film ini. Saya membayangkan betapa sulitnya mengajar anak-anak yang ‘berbeda’ dari anak lainnya. Tapi Nikumbh dengan segala kesabaran dan ketekunannya telah berhasil membuat Ishaan bangkit. Begitulah sejatinya karakter seorang guru atau mentor. Guru tidak hanya mengajar pelajaran membaca atau berhitung saja, tapi memberikan pelajaran hidup dan menemukan potensi diri anak. Because every child is special.

#odopbatch6
#onedayonepost
#nonfiksi
#reviewfilm
#ezzatania
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar