Jumat, 30 November 2018

Emak, Aku Pengen Jadi Sarjana Part 1


 Jangan pernah merasa terbatasi dengan keterbatasan (Uus Syaripudin)
akun facebook Kang Uus

 Bismillah...
Alhamdulillah kali ini bisa mewawancarai sosok yang luar biasa. Seorang pemuda yang sempat putus sekolah karena keterbatasan ekonomi, yang akhirnya mempunyai mentalitas pejuang dan bisa 'berbeda' dari apa yang lingkungannya pikirkan tentang dirinya.

Tak banyak dari kami yang tahu bahwa ayah dari satu istri dan tiga orang anak ini begitu banyak mengalami kesulitan, terutama melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Uus Syaripudin (Syaripudin menggunakan huruf P karena sunda) atau akrab disapa Kang Uus kini berhasil menjadi seseorang yang menginspirasi. Saat ini dia bekerja di Indonesia Juara Foundation (IJF) di Bandung sebagai Head Scholarship Department, memimpin 30 cabang IJF di seluruh Indonesia.

Ada begitu banyak kisah yang beliau ceritakan dalam wawancara yang saya ambil via voice note kemarin malam. Berikut ulasannya.

Pernah menjadi Anak Juara dan nguli untuk sekolah 
Anak Juara (AJ) adalah sebutan untuk anak-anak dhuafa (kurang mampu) binaan Rumah Zakat. Kang Uus menjadi salah satu AJ ketika tahun 2003 ketika akan masuk SMA. Sebelum masuk SMA, Kang Uus pernah kuli untuk mengumpulkan biaya pendaftaran. "Alhamdulillah ternyata, si pemilik home industry itu punya channel ke Rumah Zakat, didaftarkansaya  sebagai anak juara wilayah Marga Asih, Bandung. Dari sana mulai sekolah Mu’alimin (SMA)". Kang Uus bercerita. 

Tidak ada ongkos ke sekolah 
"Saya jalan dari rumah ke sekolah sejauh 3 KM dengan berjalan kaki, kadang nebeng temen, karena nggak punya ongkos", ujar Kang Uus.

Putus sekolah dan bekerja ikut kakek
Kang Uus sempat putus sekolah, sekitar kelas 5 atau 6 SD. Dia sempat berpikir untuk bekerja bantu orangtua. Kang Uus sudah yatim sejak tahun 1992. Ibunya seorang diri yang harus bekerja mencukupi kebutuhan sehari-hari empat orang anak. Kang Uus anak sulung. Niatan bekerja saat masih SD itu pun kuat. Kang Uus tidak tega melihat ibunya siang dan malam menjahit. Akhirnya dia ikut hijrah dari Bandung ke Cikampek bersama kakeknya untuk berjualan daun pisang. "Berangkat jam 9 pagi, ke hutan cari daun pisang, pulang jam 9 malam, langsung ke pasar, sampai rumah jam 10 malam, jam 2 pagi harus bangun untuk ngejualin daun pisang. begitu terus aktivitas selama setahun. Ada rasa gejolak dalam diri saya, masa' gini terus. Saya nangis ke kakek, pengen pulang dan lanjut sekolah."


Paling Menyebalkan ditanya "Mau dilanjutin kuliah dimana?"
 Diakhir-akhir kelas 3 SMA, banyak teman-teman seangkatan menanyakan, "Mau dilanjutin kuliah dimana, Us?" Kang Uus hanya menjawab dengan optimis, "Insya Allah saya kuliah". "Kuliah dimana?", "Belum tahu, tapi insya Allah saya kuliah".

Yang memotivasi untuk kekeuh pengen kuliah
Kang Uus termotivasi untuk tetap kuliah, karena ada 'saudara' yang mencibir, "Udahlah sekolah, lulus SMA, toh nanti juga menjahit lagi." Karena mayoritas pekerjaan warga di tempat tinggalnya adalah penjahit topi. Inilah yang memotivasi Kang Uus. Dia percaya bahwa pendidikan tinggi bisa meningkatkan derajat sosial, ekonomi, begitu azzamnya dalam hati.

Ditawari jadi driver atau kuliah
Selama menjadi AJ dan aktif pembinaan, mentornya, Mang Furqon memberikan informasi,  Rumah Zakat membuka pendaftaran kuliah dan SPP gratis. Kang Uus akhirnya memilih untuk lanjut kuliah meski tahu konsekuensinya adalah adanya biaya-biaya lain dan bertahan hidup selama kuliah.

Biaya makan sehari-hari dan  biaya kuliah dari jualan
Setahun tinggal di kampus tepatnya di mihrab masjid berukuran 1,5 m x 1 m. Dia juga sering membantu membersihkan masjid, kadangpula ketika ada acara, biasanya dikasih makan. Tapi, waktu dua hari pertama, Kang Uus tidak makan, karena memang tidak ada bekal. Akhirnya makan sehari-hari dengan mie instan dan kadangkala memasak daun singkong. Biaya kuliah? Biaya kuliah gratis hanya membayar biaya ujian semester, buku dan lain-lain. Kang Uus menemukan peluang ketika pulang kampung. Dia mengambil makaroni dari kampungnya dan menjualnya di kampus. Karena aktivitas kuliah, tidak mungkin menjajakannya dari satu per satu ke setiap orang. Kang Uus membuat kantin kejujuran. Makaroni yang dia bawa diletakkannya di meja, dan meninggalkan catatan harga diantara makaroni tersebut.

Sosok inspirator Kang Uus
Sosok inspirator Kang Uus adalah Abu Syauqi. Abu Syauqi adalah founder father Rumah Zakat. Menurut Kang Uus, Abu Syauqi adalah sosok yang bisa memadupadankan antara bekerja/berbisnis dan ibadah, memadukan dunia dengan tidak melupakan akhirat. Setelah Kang Uus sarjana, dia langsung bekerja selama setahun. Selama pengalaman Kang Uus bekerja, tidak pernah atasannya mengingatkan tentang shalat ataupun tentang ibadah. Yang dipikirkan adalah bagaimana target penjualan tercapai, tentang rupiah dan rupiah. Yang pada akhirnya membuat Kang Uus tidak nyaman. Lalu, Mang Furqon, kembali menawarkan untuk bekerja di Rumah Zakat, menjadi staff Non Formal Educare. Disana, kata Kang Uus, dia menemukan apa yang selama ini dia cari. Yaitu tentang keseimbangan antara aktivitas bekerja dan ibadah.
Kang Uus yang tekun, rajin, dan selalu bersemangat ini meniti karirnya dari Rumah Zakat, hingga akhirnya menjadi Head Scholarship Department yang telah banyak memberikan inovasi pendidikan dan membantu anak-anak dhuafa di seluruh Indonesia melalui Indonesia Juara Foundation.

Dalam percakapan wawancara terakhir, Kang Uus menyampaikan "Kita jangan merasa terbatasi hanya karena keterbatasan. Artinya walaupun faktanya kita dalam keterbatasan finansial, tidak punya kendaraan motor (untuk kuliah), sudahlah, keadaan saya memang begini, nggak perlu kuliah. Ah sudahlah, saya mah nggak punya kendaraan untuk kuliah, Nah itu berarti membatasi diri! Terus saja berusaha. Karena yakin Allah itu pasti memberikan jalan-jalannya, Allah pasti membantu hamba-hambaNya yang bertakwa."

#wawancara1
#ezzatania

Senin, 26 November 2018

Ahad Cerah Bertabur Berkah


Dokumentasi SpM Lampung

Pukul 8 pagi, anak-anak di desa Sukabumi, Bandar Lampung sudah berkumpul di rumah Umi Dewi, mentor Sukabumi. Sambil menunggu teman-teman yang lainnya berwudhu, anak-anak lain yang sudah berwudhu menghafal dan mengulang-ulang surat An Naba’.

Dokumentasi SpM Lampung
Setelah semua dalam keadaan berwudhu, anak-anak melakukan shalat dhuha secara berjamaah. Oh ya, shalat dhuha ini banyak sekali manfaatnya lho. Kalau kebanyakan orang percaya bahwa shalat dhuha bisa melancarkan rezeki saja. Padahal banyak sekali manfaatnya. Apa saja?


Pertama, shalat dhuha merupakan wasiat khusus baginda Nabi Muhammad . Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ mewasiatkan 3 hal kepadaku, puasa tiga hari setiap bulannya, melaksanakan shalat dhuha dua raka’at, dan witir sebelum tidur (Muttafaq ‘alaih). Kedua, melaksanakan dua reka’at dhuha senilai sedekah. “Setiap pagi, setiap ruas anggota badan kalian wajib dikeluarkan sedekahnya. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, dan melarang berbuat munkar adalah sedekah. Semua itu dapat diganti dengan shalat dhuha dua rakaat.” (HR. Muslim). Ketiga, 4 reka’at shalat dhuha membaca kecukupan. Allah berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat reka’at diawal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.” (HR. Ahmad). Dan masih banyak pahala lainnya jika rutin mengerjakan shalat dhuha.

Dokumentasi SpM Lampung
Matahari semakin naik, menelisik dan memberi panorama cerah di balik celah-celah awan. Shalat dhuha sudah tertunaikan. Saatnya melanjutkan kreasi. Oh ya, pembinaan kemarin, anak-anak kedatangan Kak Kristina, alumni anak juara yang baru saja lulus SMA. Kak Tina pandai sekali membuat berbagai kreativitas dari kain, kertas, ataupun bahan tak terpakai lainnya. Nah, kali ini Kak Tina akan mengajari anak-anak membuat pajangan dinding dari bahan kain flanel. Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok dan bekerjasama menyelesaikan satu buah pajangan. Anak-anak harus kompak yah, biar hasil pajangan tcakep. Hehee

Dokumentasi SpM Lampung

For your information, Umi Dewi, mentor anak-anak Sukabumi, Bandar Lampung suka sekali memasak. Setelah seharian anak-anak belajar, bermain dan berkreasi, beliau membuat berbagai macam makanan. Disiang hari beliau sudah menyajikan sayur, sambal, dan tempe goreng, dan tidak ketinggalan makanan pokok nan mengenyangkan yakni nasi. Orang Indonesia kalau ditanya sudah makan atau belum, kalau belum melahap nasi, pasti bilangnya belum makan. Iya atau iya? Hehee.. Meskipun sederhana, tetapi anak-anak bahagia. Bukan persoalan mahalnya sebuah makanan, tapi berkahnya makanan tersebut karena dinikmati bersama-sama. Nyummy.. Bagaimana dengan hari Ahadmu? Pastikan selalu bermanfaat yah.. :’)
Hasil kreasi anak-anak: Dokumentasi SpM Lampung
 #ezzatania