Selasa, 16 Oktober 2018

Mengungkap Mitos ‘Tangan-tanganan’


Sumber gambar: materibelajar.co.id

Apakah kamu pernah mendengar istilah tangan-tanganan? Ya! Tangan-tanganan adalah sebuah istilah dimana rasa masakan bergantung pada siapa yang memasak.

Saya pernah punya pengalaman. Saat kuliah, saya dan tiga orang teman kampus mengontrak satu rumah. Ada salah satu teman saya yang masakannya selalu saja enak. Bahkan dia jarang mencicip masakannya. Tangannya begitu lincah menebarkan bumbu-bumbu dan mencampurkannya bersama bahan-bahan. Padahal bahan-bahan masakannya sangat sederhana. Tempe, cabai, terong ungu, toge, dan lain-lain. Namun bahan-bahan ini bisa disulap menjadi masakan rumah yang lezat! Karena itulah sampai-sampai kami tidak berani mengambil alih dapur untuk mencoba memasak. Bisa-bisa tidak ada yang makan.

Kalau kamu ditanya masakan siapa yang paling enak, kamu akan jawab masakan siapa? Kalau boleh saya duga, kamu pasti akan menjawab masakan ibu. Benar?

Ya! Karena rata-rata teman-teman yang saya tanya juga menjawab ibu. Mengapa masakan ibu enak?
Coba kita pikirkan, berapa lama ayah dan ibu kita menikah? Bila usia kita 22 tahun, minimal usia pernikahan orangtua kita lebih setahun dari usia kita. Ya! 23 tahun. Berarti 23 tahun pula ibu selalu memasak untuk suami dan anak-anaknya. 23 tahun itu pula secara tidak langsung ia berlatih memasak. Bayangkan, waktu yang cukup lama bukan? Secara logika, wajar tidak bila sesuatu hal yang terus menerus diulang akan menjadi expert (ahli). Sebuah penelitian yang mengatakan demikian. Bahwa untuk menjadi ahli dibidang tertentu, minimal kita harus mengulanginya sebanyak 1000 kali. 

Kembali ke persoalan teman saya yang jago masak tadi, bahwa ternyata setelah saya telusuri, ia pernah punya pengalaman bekerja di rumah makan selama hampir 2 tahun. Kemudian dia resain karena melanjutkan kuliah. Berarti selama 2 tahun itu pula ia memasak. Sedangkan kami, memasak hanya ketika lapar. Sepekan mungkin hanya 2 atau 3 kali memasak, atau bahkan tidak sama sekali. Maka wajar saja bila rasa masakan kami masih rasa pemula. Ketika terus berlatih memasak, atau minimal menempa diri untuk rutin memasak tiap hari, maka lama-kelamaan akan terbiasa. Tangan kita akan menakar secara otomatis seberapa banyak garam atau gula yang harus ditumpahkan.

Kamu juga mungkin pernah melihat dua orang yang diberi bahan masakan yang sama, tetapi rasanya berbeda?
Menurut saya, istilah tangan-tanganan tidak ada. Yang ada hanyalah sudah berapa lama seseorang rutin memasak. Semakin rutin memasak, semakin enak pula hasil masakannya. Toh bila masakan satu dengan yang lainnya berbeda rasa padahal bahan masakannya sama, itulah ciri khas. Setiap orang memiliki khas masakannya sendiri, bergantung pada selera lidahnya.

#odopbatch6
#onedayonepost

Tidak ada komentar:

Posting Komentar