Jumat, 12 Oktober 2018

Letak Kebahagiaan

Sumber gambar: lmizakat.org
Banyak orang yang ketika melihat orang lain, dikiranya orang lain itu lebih bahagia ketimbang dirinya. Orang miskin melihat orang kayalah yang bahagia. Hidup di rumah yang luas dan nyaman, tidur di kasur yang empuk, makanan yang enak dan nikmat. Ketika bepergian dengan mobil mewah. Kalau musim panas nggak kepanasan. Kalau musim hujan nggak kehujanan.

Padahal yang kaya berpikiran kebalikan. ‘Enak kayaknya jadi mereka’. Hidup pas-pasan tapi masih bisa tertawa lepas. Tidak memikul banyak beban dan tanggung jawab. Tidur beralaskan tikar tapi nyenyaknya bukan main. Meski makanan mereka sederhana tapi masih bisa makan dengan lahap. Sedangkan orang kaya bisa makanan serba nikmat tapi malah tidak boleh makan karena penyakit ini penyakit itu.

Rona kebahagiaan seolah hinggap dalam diri orang lain. Diri kita merasa orang lain lebih bahagia. Sepertinya kita adalah orang yang paling menyedihkan di muka bumi ini.

Ketidakbahagiaan itu sebabnya sederhana. Kita tak mampu menganggap pemberian Allah sebagai karunia terbaik. Padahal hidup manusia sudah ditakdirkan jauh sebelum manusia itu sendiri dilahirkan. Terkadang sesuatu yang dikira baik untuk kita, belum tentu baik menurut Allah. Begitu pula sebaliknya, sesuatu yang buruk menurut kita, belum tentu buruk menurut Allah.

Ilmu manusia sangat terbatas. Sedangkan ilmu Allah tidak terbatas. Bahkan bila kita mencelupkan ujung kelingking jari kita ke lautan, maka bagian kelingking yang terkena air itulah ilmu kita dan lautan itulah ilmu Allah. Allah lebih tahu apa yang paling dibutuhkan oleh hamba-Nya. Namun kebanyakan kita hanya tahu apa yang kita inginkan. Padahal keinginan kita belum tentu yang kita butuhkan.

Kebahagiaan itu hadir ketika apa yang diberikan oleh Allah, kita anggap sebagai anugerah terbaik dari-Nya. Ketika Allah memberi sakit, “Ah, mungkin inilah saatnya aku beristirahat sejenak.” Waktu Allah memberikan kegagalan, “Mungkin Allah sedang menguji kesabaranku.” Saat Allah memberikan rezeki yang pas-pasan, “Mungkin kalau rezekiku berlebih saat ini, aku belum siap.” Demikian seterusnya.

Maka, apapun yang Allah berikan dalam kehidupan kita adalah yang terbaik untuk kita, bukan menurut kita, tapi menurut ukuran Allah.

#odopbatch6
#onedayonepost

Tidak ada komentar:

Posting Komentar