Senin, 15 Oktober 2018

Janur Kuning atau Bendera Kuning

sumber: Hipwee.com
Para anak muda, apalagi yang sudah lulus kuliah, pasti tidak asing lagi dengan pertanyaan "Kapan nikah? Kapan nyusul?, kok masih jomlo?, Kapan nih bagi-bagi undangan, dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan ini meluncur bak roket, hingga tajam didengar oleh telinga para pemuda-pemuda yang berstatus belum menikah.

Pertanyaan tentang pernikahan atau jodoh sama halnya dengan pertanyaan tentang maut dan rezeki. Bukankah maut, rezeki,  dan jodoh seseorang telah digariskan masing-masing? Kita tidak pernah tahu kapan kita akan menikah atau dengan siapa kita akan menikah. Pun sama halnya dengan kapan kita meninggal atau usia berapa kita akan meninggal. Jadi, jelas bahwa pertanyaan tentang kapan menikah, seharusnya tidak perlu dilontarkan. Ini berarti bertanya, kapan meninggal? Tentu tidak etis bukan? Sebaiknya didoakan saja.

Kembali ke persoalan janur kuning atau bendera kuning. Sejak ditinggal meninggal oleh adik kesayangan saya, saat itu saya mengambil kesimpulan bahwa, kematian tidak harus didahului oleh sakit. Kematian tidak harus rambut ubanan, tubuh telah membungkuk, ingatan telah pikun atau duduk dikursi roda. Banyak diantaranya yang menemui malaikat maut masih muda, lincah, kuat, dan sehat.Termasuk adik saya. Mungkin juga saya atau Anda, toh siapa yang bisa menjamin hari esok napas kita masih berhembus? Ada salah satu ustadz yang saya kenal, setiap malam hendak tidur, beliau selalu menuliskan wasiat dan mengatakannya berulang-ulang kepada istri dan anak-anaknya. Ia khawatir bila ketika tidur lalu esok hari ia tidak lagi membuka mata. Sehingga dia merasa tenang.

Perkara jodoh. Kita yakin bahwa Allah telah menciptakan makhluknya secara berpasang-pasangan. Maka bila kita yakin, tolak ukurnya adalah memantaskan diri, baik dengan ilmu pernikahan, ilmu keuangan keluarga, manajemen konflik rumah tangga, dan lain sebagainya. Bahkan ada teman saya, ia selalu berburu seminar-seminar parenting atau sekolah pra nikah dan hampir tidak pernah absen. Ia telah mempersiapkan ilmu sebagai bekal berkeluarga nanti.

Sama halnya dengan kematian, sebagai awal kehidupan manusia yang sebenarnya. Tentu bekal dan ilmu harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Memperbanyak amal kebaikan dan senantiasa memperbaharui niat Lillah dan ikhlas dalam amal kebaikan dan amal sholih.

Jodoh dan kematian adalah sebuah kepastian yang rahasia, hanya Allah lah yang Maha Tahu. Soal pertanyaan janur kuning atau bendera kuning yang mendahului, setidaknya kita telah siap dengan persiapan yang terbaik. Insya Allah...

#odopbatch6
#onedayonepost

Tidak ada komentar:

Posting Komentar