Jumat, 26 Oktober 2018

Ibunda


Sumber gambar: hipwee.com

Seorang anak kecil menangis meraung. entah apa maunya.
dipeluklah oleh ibunya. anak kecil berusia 19 bulan.
dalam pelukan ibundanya tercinta, ia masih saja menangis, matanya jadi merah dan pipinya makin kelimis karena basahan airmatanya.
tak lama, sang bayi mengompoli gamis ibunya.
ibunya yg telah rapi dan terjaga wudhunya, terpaksa harus mengganti pakaiannya dan berwudhu kembali.
sang ibu dg sabar mengelus rambutnya sambil berkata, "Sholihah, koq begitu, koq aleman.. hayoo, jangan nangis terus, nanti ga sholihah..." ucap sang ibu dg penuh kesabaran.

itulah ibu, rela diompoli bahkan berulang2, rela pipinya ditampar halus oleh tangan kecil kita.

Melihat itu, seketika aku membayangkan masa kecilku dulu. mungkin tidak jauh seperti yg sang anak lakukan.

ketika ku masih dalam kandungannya, ia berpayah2 membawaku kemana saja ia pergi, naik tangga turun tangga, berjalan, berdiri, duduk setiap hari hingga 9 bulan 10 hari

Aku membayangkan betapa lelahnya itu. bobotku tidak sekilo, bobotku 3 kilo yg dg setia ia bawa kemanapun pergi. membayangkannya saja aku sudah sesak.

Saat tiba masanya melahirkan, ia pertaruhkan hidup dan matinya, ia berusaha sekuat tenaga agar aku terlahir dg selamat walau begitu dahsyatnya sakit yg ia rasa. Ia bercucur peluh, ia kerahkan seluruh energinya, lagi -lagi diantara hidup dan matinya.

dan.. karena perjuangannya yg begitu luar biasa, aku terlahir.. menangis, merenta-renta gemulai halus tak berdaya. sedang ia tersenyum, ia lupa bagaimana sakitnya beberapa menit sebelum itu..

saat ku terlahir masih saja merepotkannya.
ia rela terjaga sepanjang malam, menepoki nyamuk2 kecil yg menggangguku, memberiku makan setiap kali aku lapar, yg tidak pernah terprediksi kapan waktunya.
Ia sabar meladeni suara tangisanku yg mampu memekikkan gendang telinga, "cup.. cupp.. sayang.. laper ya? banyak nyamuk ya?" ucap ia manja seolah2 aku memahami, dan aku memang memahaminya melalui IlhamNya.

dan ia tetap terjaga walau matanya telah memerah menahan kantuk yg sangat.

Dalam ketidakberdayaanku, ketidaktahuanku, ia ajari banyak hal hingga aku tumbuh besar dan pandai. Ia beri segalanya, waktunya, energinya, materinya, yg ia harap hanya sebaris senyum bahagia dari anaknya.

Kasih sayangnya sepanjang masa
Aku disayang dari kandungan, bayi hingga sekarang bahkan hingga ia akhirnya tiada

Cintanya tulus ikhlas dan suci, sesuci embun di subuh hari
Ia telah memaafkan walau kita belum memintanya
Ia sabar meski kenakalan2 kita membuncah dadanya dan meng-istighfari perilaku kita
Ia selalu perhatian meski kita sering melupakannya

Oh Ibu..
Wajar saja jika Surga di bawah telapak kakimu

Oh ibu, ingin kusampaikan, aku merindukanmu...

#odopbatch6
#onedayonepost


Tidak ada komentar:

Posting Komentar