Rabu, 17 Oktober 2018

Aku Cemburu


Lihatlah, aku disini sendiri. Terpaku dan tersudut di atas meja kecil berukir. Ah, aku ingat sekali saat kecil dulu kita selalu bersama. Kita seperti mawar dengan durinya. Selalu bersama. Tapi lihatlah aku sekarang. Berteman debu dan sepi. 

Duhai kawan, ingatkah saat kecil dahulu. Aku sangat senang tiap kali kamu menyapaku. Suaramu indah mengiang-ngiang diudara. Kamu sangat berhati-hati menjagaku. Mengusap tubuhku dengan jemari lentikmu. Menciumku setiap kali kamu selesai menyapaku. Tidak ada kebahagiaan bagiku selain itu.

Hari berganti , bulan berlalu, dan tahun pun bertambah. Kamu sudah berubah. Kamu semakin sibuk. Tahun-tahun lalu kamu masih setia menyapaku setiap hari. Hari terus berganti. Kamu menjadi jarang menyapaku. Sepekan sekali, tidak mengapa bagiku. Asalkan kamu tetap menyapaku. Tetapi akhir-akhir ini kamu malah tidak menyapaku sama sekali. Apakah aku begitu membosankan bagimu, kawan?

Belakangan ini aku melihat kamu lebih sibuk bersamanya. Kutahu Gawai namanya. Dia mengambil alih total perhatianmu. Saat bangun tidur dipagi hari, kamu meraba-raba tempat tidur untuk mencarinya. Saat makan, duduk, berdiri, bahkan sebelum tidurmu. Ah, dia sangat akrab denganmu. Sungguh aku cemburu, kawan.

Lagi. Disini. Aku melihatmu dari kejauhan. Sekali lagi, hanya bisa memandang. Kulihat kamu sering tersenyum dan tertawa bersamanya. Apakah dia begitu menarik hatimu? Apakah dia sangat menghiburmu, kawan? Aku menggumam dalam kebisuan.

Ah, apalah arti aku ini bagimu. Tubuh yang berdebu dan kusam. Tentu kamu tidak mau lagi berkawan denganku, bukan?

Kawan. Cobalah pandang aku disini. Aku begitu cemburu. Rasa cemburu ini menggerogotiku. Aku ingin seperti gawaimu. Sungguh istimewanya Gawai itu. Oh ya, ternyata aku juga bisa menjadi bagian dari gawaimu. Yang bisa pula kamu bawa-bawa. Ah, tapi sudahlah. Itu pun tak kamu lakukan. Sudahlah, lupakan saja aku. Aku berharap kamu baik-baik saja. Tapi itu tidak mungkin! Bahkan aku adalah pedoman bagimu. Ah tidak! Aku ingin berteriak atas semua perlakuanmu kepadaku! Bagaimana mungkin kamu mengabaikan aku! Sedangkan aku adalah penerang jalan hidupmu! Bagaimana mungkin kamu bisa melupakan aku! Sedangkan aku bisa menenangkan hatimu! Aaarghh!!! Aku menjerit.

Baiklah. Aku tak pantas memarahimu. Aku cukup cemburu saja. Ada yang lebih pantas memarahimu. Dia Tuhan yang menciptakan aku juga gawaimu. Aku hanyalah kitab suci. Namun tak suci lagi dimatamu karena pengabaian ini.

#tantangan6
#odopbatch6
#onedayonepost

Tidak ada komentar:

Posting Komentar