Senin, 03 September 2018

Wawasan Oh Wawasan

Pagi yang cerah. Matahari perlahan beranjak naik dari timur. Suasana pedesaan yang ramah suara burung, jangkrik, juga kambing seolah menjadi sahabat di sini.

Tepatnya di desa Wawasan, Kecamatan Tanjung Sari, Lampung Selatan. Sebuah pemukiman yang masih sangat ramah dengan alam dan tetumbuhan padi.
Wawasan bisa ditempuh dengan perjalanan sekitar kurang lebih 2 sampai 2,5 jam dari pusat kota Bandar Lampung. Kondisi saat ini jalan sudah cukup baik daripada 2 tahun lalu. Dulu, untuk mencapai Wawasan, kita harus menyiapkan fisik yang fit, karena kita akan digoncangkan dengan lika-liku dan jalan-jalan yang becek dan berlubang yang cukup dalam. Alhamdulillah bisa sampai pula dengan selamat meski cukup lambat.

Sepanjang perjalanan, kita akan disuguhkan dengan pemandangan yang rindang dengan pepohonan karet, di kiri dan kanan badan jalan. Pohon-pohon yang melekukkan batangnya ke arah cahaya matahari dan beberapanya melekuk bak atap jalan. Juga rumah-rumah sederhana yang jarak yang jarang-jarang serta identitas jalan yang cukup sulit untuk dikenali oleh orang pendatang. Maklum, di pedesaan masih menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan, sehingga tak perlu identitas jalan yang sangat lengkap untuk mereka saling mengenali.

Wawasan. Tepat di jalan Budi Jaya RT 2, ada kelompok anak berusia SD-SMA. Mereka berjumlah sekitar 14 orang. Mereka adalah anak-anak yatim dan dhuafa (atau disebut anak juara) binaan Rumah Zakat. Setiap ahad pagi mereka berbondong-bondong dengan sepeda ontel atau motor odong-odong menuju pembinaan. Disana, pembinaan dikelola oleh ustadz Ali Murtadzo, seorang guru juga aktifis dakwah di desa tersebut.

Tidak hanya hari ahad, anak-anak juga mengisi 2 hari lainnya dalam sepekan untuk pembinaan. Aktifitas mereka adalah belajar membaca Al Qur'an, menghafal juz ke 30, dan belajar ilmu keislaman.

Warga masyarakat Wawasan mayoritas adalah buruh tani dan beberapa lainnya buruh ternak. Termasuk Yakup. Yakup adalah anak juara yang duduk di bangku kelas 11 SMA. Selain bersekolah, ia juga bekerja sebagai buruh ternak. Saat ini ia telah mengembala 3 ekor kambing, 2 diantaranya yang ia rawat sejak baru lahir. Ia sangat telaten dan tekun mengembalanya. Ia pun diberi upah oleh sang pemilik. Upah yang ia terima selalu ia tabung dan diberikan kepada ibunya. Yakup bercita-cita ingin melanjutkan pendidikan sampai kuliah. Namun beratnya biaya pendidikan, Yakup agak pesimis dapat melanjutkannya. Tabungan yang ia kumpulkan tidak cukup untuk biaya pendidikan sampai ke jenjang kuliah. Semoga Allah memudahkanmu yaa, dik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar