Minggu, 09 September 2018

Habiskan makananmu



Akhir-akhir ini, hampir setiap pekan saya mendapat undangan pernikahan. Tentunya untuk merayakan hari bahagia yang hanya terjadi sekali seumur hidup tersebut harus digelar sebuah walimahan (pesta/resepsi).

Pagi ini saya pun menghadiri acara walimahan rekan kerja di kabupaten Lampung Timur. Perjalanan yang kami tempuh kurang lebih dua jam. Budaya disini ketika tamu undangan hadir, mereka langsung diajak oleh shohibul hajat (tuan rumah) untuk mengambil makanan secara prasmanan. Berbagai jenis makanan enak dan lezat disuguhkan, mulai dari ayam bumbu sate, orak-arik kentang, sop, dan rujak. Semua terlihat enak, ditambah lagi setelah perjalanan jauh. Rasanya ingin menyiduki semua jenis makanan tersebut dan memindahkannya ke piring. (laper atau doyan, heheeπŸ˜†).

Saya yakin, kawans pun pernah mengalami hal seperti saya. Menghadiri pernikahan atau kondangan ingin menyantapi semua makanan yang disajikan terlebih bila ada pondokan. Pempek ikan, es buah, tekwan, puding, jus, dan lain sebagainya. Ini sih biasanya kondangan di gedung yah. Kalo kata mahasiswa mah perbaikan gizi kondangan mah.. heheee...πŸ˜… (dengan logat Sunda).

Tidak ada yang salah kawans (namanya juga laper yahπŸ˜†), namun alangkah baiknya bila kita bijak dalam menggunakan nikmat yang Allah berikan berupa makanan yang cukup dan beragam. Yang kurang tepat adalah kita tidak menghabiskan makanan-makanan yang sudah kita ambil tadi. Misalnya, masih tersisa nasi, sepotong ayam, sepotong daging, atau minuman yang setengah diminum kemudian ditinggalkan, dan lain sebagainya. Intinya makanan yang sengaja tidak kita habiskan.

Seperti menyisakan nasi misalnya. Saya sendiri melihat betapa susah payahnya para petani padi dalam memproduksi beras. Mereka merawat padi-padi mereka agar tidak dimakan dan dirusak oleh hama, mereka mengaliri sawah-sawah dengan air yang jauh, membajaknya di terik siang dan matahari yang sangat menyengat. Belum lagi saat proses panen, petani harus memotong tanaman padi sejengkal demi sejengkal, padi-padi hasil panen harus dijemur agar tidak mudah busuk, digiling baru menjadi bulir-bulir beras yang merupakan makanan pokok mayoritas rakyat Indonesia ini. Proses yang cukup panjang dan melelahkan bukan?

Dari sini saya belajar bagaimana kita dapat menghargai jerih payah para petani. Bahkan merekapun tidak pernah menyia-nyiakan meski beberapa bulir beras, karena mereka sangat tahu bagaimana susahnya menghasilkan beras. Belum lagi bila gagal panen. (kebayang kan bagaimana sedihnya para petani, makanya jangan sering import yah pak menteri, kan petani lokal jadi kasihan. (loh, eh... intermezzo aja yaa kawans...πŸ˜…).

Maka, ketika mengambil makanan, hendaknya jangan berlebihan dan sesuai takaran yang bisa kita habiskan. Kewajiban menghabiskan makananpun Rasulullah SAW telah mencontohkannya. Bahkan ketika makanan yang jatuh, kita disunnahkan untuk membersihkan dan memakannya. Dari Anas bin Malik bercerita bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Jika ada bagian dari makanan kalian yang jatuh, maka bersihkanlah kotorannya dan makanlah. Jangan tinggalkan makanan (yang jatuh) untuk setan.”

Rasulullah SAW juga menyuruh agar memakan sisa-sisa makanan yang ada di piring sampai bersih. beliau bersabda,”Kalian tidak tahu bagian mana dari makanan kalian yang memiliki berkah.” (HR. Muslim). Nah, jangan-jangan makanan yang pernah kita buang ada berkahnya. Wah, jangan sampai terulang kembali ya kawans.. habiskan makananmu. Wallahu ‘alam..

#odop6
#onedayonepost

Tidak ada komentar:

Posting Komentar