Kamis, 06 September 2018

Dian dan Doggy



Episode 1


Malam itu. Hujan turun lebat. Sesekali angin dan petir menyambangi sekitar pepohonan. Hujan yang sangat lebat itu pun menggenangi ruas-ruas jalan. Parit-parit tidak tahan membendung tetesan air yang datang gahar.

Disana. Di parit yang penuh dengan air hingga meluber sampai jalan. Seekor kepala anjing tengah menengadah di permukaan air dalam parit. Terdengar merintih dan seolah meminta tolong. Meringkih. Memoncongkan hidungnya yang hitam untuk mengambil napas dengan susah payah. Seperti menangis. Ringkikannya kembali terdengar. Genangan air itu membawanya mengaliri got dan tertahan di geladak. Malang. Malangnya ia. Angin, hujan yang lebat, petir yang menjilat-jilat yang siap menyambar apapun yang dikenainya. Sungguh mengerikan malam itu. Alam nampak tak bersahabat dengannya.

Hujan lebat, angin kencang, juga petir itu tak pula menakuti Dian. Ia sangat kencang berlari menuju rumahnya. Dengan bertelanjang baju dan dipegangnya baju jersey Liverpool, ia terus berlari. Langkahnya berirama dengan cepatnya frekuensi air yang jatuh ke bumi.
Sejenak ia terhenyak. Mendengar suara yang cukup memilukan. Membuat bulu kuduknya berdiri. Karena ia lelaki, ia beranikan diri. Ia pandangi satu persatu sudut-sudut ruang alam yang bisa ia lihat. Ia tertuju pada parityang berada tepat di sebelah kirinya.

Mata tajamnya sekejap langsung mengenali apa yang ada di permukaan air got tersebut. Ya, seekor anjing kecil yang sedang berjuang untuk tetap hidup. Dian mendekati anjing malang itu. Ia menjatuhkan kedua lututnya hendak mendekati. Anjing malang ini memang anjing liar. Entah ia dibuang atau ia terpisah dari induknya. Yang jelas ia sedang sekarat sekarang. Si anjing mencoba menjauh. Seolah kode bahwa ia takut kepada Dian. Dian yang kasihan melihatnya tidak peduli. Dalam beberapa langkah itu dapati leher anjing kecil itu. Diangkatnya perlahan. Ia melanjutkan kembali langkahnya untuk pulang bersama anjing kecil itu.

Dengan kaki becek, berlari Dian menuju dapur. Kain keset dapur direngkuhnya dan diselimuti seluruh tubuh anjing yang gemetaran itu. Digosok-gosok nya kain keset agar air disela-sela bulunya yang kasar segera kering. Di bawah meja, ia teduhkan si anjing kecil, lalu ia pun masuk ke dalam rumah bersiap untuk tidur.

Fajar menyingsing.

Hus... hus....!!! anjing siapa ini?” teriak Bapak, kaget melihat seekor anjing kecil yang berada di bawah meja.

“Husss... hus...!!! pergi... pergi...!!! binatang najis... pergi... pergi..!!! bau, jorok, dasar binatang najis. Hus... hus..” Bapak semakin geram. Diambilnya sapu hendak memukul si anjing kecil malang.

#onedayonepost
#odopbatch_6
#komunitasodop

Tidak ada komentar:

Posting Komentar