Jumat, 07 September 2018

Dian dan Doggy 2



Episode 2


Kembali anjing malang itu meringkih. Entah sudah seberapa sering ringkihannya. Penderitaan terus menimpa.

Buk.... Buuuuk” suara pukulan dari sebuah sapu lantai meluncur tepat di tubuh kecil anjing berbulu cokelat itu.

“Sana pergi!!!” teriak Bapak.

Si malang itu meringkukkan tubuhnya. Tak mau ia menatap mata si Bapak. Tak mau pula ia pergi. Berada ia di pojok kursi.

Si Bapak akhirnya menyerah. Napasnya tersengal ngos-ngosan seperti ia saja yang dipukuli.

“Bapaaak...” ucap Dian, sambil mengucek matanya. Baru saja bangun.
Biar Dian aja yang usir.” Ucap bocah berusia 16 tahun ini.

Didekati si malang. dielus-elus kepalanya.

“Doggy! Yes, nama kamu Doggy yaaah?!” ucap Dian kegirangan.
Dian membangkitkan tubuh Doggy yang kecil itu. Ia letakkan di tengah jalan. 

Come on, Doggy, kita jogging biar sehat.”
“Ayo Doggy, ayoo...!” ucap Dian lagi sambil berlari.

Doggy berdiri dan mulai berjalan. Ia kejar Dian yang sudah berlari sejak tadi. Beberapa langkah Doggy berlari, ia berhenti. Berulang kali. Lama sekali ia dapat menyusul Dian yang sudah berada di ujung perempatan jalan komplek.

“Doggy.... kamu kenapa?”

Dian memelototi Doggy, menyadari ada yang berbeda darinya. Dipegangnya kedua kaki depan Doggy. Sambil mengurutnya. Komat-kamit bibirnya. Entah apa yang ia baca. Doggy menuruti saja puannya yang baru saja didaulatkan itu.

Yaa.. Doggy memang berbeda dari anjing biasanya. Kedua kaki depannya saling berhadapan. Ia cacat. Itulah yang menyebabkannya sulit berlari bahkan menyelamatkan diri kala itu. entah memang terlahir demikian atau karena banyaknya penderitaan yang ia alami.
Bapak masih melarang Dian memelihara Doggy. Namun Dian sudah terlanjur sayang. Terlebih ia tak tega melihat anjing kecil cacat itu. Saking marahnya Bapak, beberapa hari ia mendiamkan Dian. Dian bandel dan bersikukuh.

****

Setiap pekan, Dian selalu mengajak Doggy jogging. Setiap pagi itu pula ia menguruti kaki dan komat-kamit. Ia lempar kayu, Doggy mengambilnya. Kini sudah setahun lamanya. Mungkin Bapaknya mulai lupa dengan marahnya. Doggy sudah tidak mengganjal di pikirannya lagi. Para tetangga menyarankan agar Doggy tetap dipelihara, alasannya untuk keamanan di komplek mereka. Dan benar saja, komplek tidak pernah terdengar kabar lagi ada yang kehilangan, atau anak-anak muda yang mabuk-mabukan sambil bermain kartu di perempatan gang. Doggy terus menggonggongi mereka tiap kali mereka beraksi.

Dian semakin sayang pada Doggy. Ia sangat pintar dan penurut. Dan entah mengapa pula seiring berjalannya waktu, Doggy nampak seperti anjing lainnya. Kakinya kembali. Ia mampu berdiri tegak dan berlari jauh sekali. Hingga Dian dibuat kalah olehnya. Ya.. Doggy normal kembali. Entah karena urutan Dian atau komat-kamit doa yang ia lantunkan ia bisa sembuh. Entahlah...

Malam itu, pukul 22.00 WIB. Doggy tak nyenyak tidur. Ia begitu gelisah. Ia mendengar suara-suara kresek dari balik mobil itu. Doggy memergoki 2 orang lelaki dengan masker hitam dan mengonggong dengan keras. Mereka tak tahan mendengar suara berisik Doggy.

“Dor! Dor!dor!” tembakan senapan itu menembus kepala Doggy. Doggy tersungkur ke bumi. Gonggongan masih terdengar, namun suaranya menjadi parau dan perlahan menghilang.

Jefri, tetangga sekaligus teman Dian memanggil Dian di pagi itu.

“Dian. Doggy mati di garasi rumahku, dan mobil ayahku hampir saja dicuri semalam. Kuncinya masih tergantung di mobil. Kamu hebat sudah membesarkan pahlawan seperti Doggy. Sampaikan ucapan terima kasih keluarga kami kepada Doggy, dia sudah menjaga kami.” Ucap Jefri.

****


#onedayonepost
#odopbatch_6
#komunitasodop

Tidak ada komentar:

Posting Komentar