Jumat, 21 September 2018

Cinta Ara 6



Bagian 6

Angin sore hari terasa dingin. Saking dinginnya, seolah menggigilkan suasana. Semua dalam kebisuan. Tak ada yang bergeming. Tak menyangka, tak menduga, begitu sempurna Kia menyembunyikan perasaannya. Bahkan ia lebih baik dari Alan. Dia berhasil menyembunyikan perasaannya kepada semua orang, bahkan kepada Ara, sahabat dekatnya sekalipun.

“Aku merasa seperti benalu dalam hubungan kalian berdua. Aku tahu kalian saling mencintai. Alan yang secara jelas menampakkan perasaannya. Ara pun juga sebenarnya mencintai Alan. Namun Ara takut kepada janji bodoh yang terucap saat itu. lupakan soal janji itu. anggap saja janji itu janji seorang anak remaja yang tidak tahu apa-apa, tidak tahu bagaimana cinta dan persahabatan tak pernah bisa disamakan. Cinta dan persahabatan yang takkan pernah bisa beriringan. Lupakan saja janji itu. kalian hiduplah bahagia bersama cinta kalian. Kalian tak perlu memikirkan aku.” Kia mengungkapkan perasaannya. Kali ini ia begitu tegar. Ia telah menyiapkan kata-kata dan telah menduga peristiwa ini.

“Kia...” Ara mengangkat suara. Ia menangis tersedu. Ia dan Alan tak pernah menyangka Kia akan memiliki perasaan cinta kepada Alan. Tak pernah terlihat sama sekali.

“Bila janji kita kala itu adalah janji semu, maka yang lebih berhak atas Alan adalah kamu, Kia. Aku seharusnya yang harus pergi. Selama ini kalian saling berkomunikasi, jadi tetaplah seperti itu. menikahlah.” Ucap Ara tersenyum.

Ara memeluk Kia. Ia menyayangi Kia. Ia harus merelakan perasaannya demi sahabatnya.

“Ara... Bagaimana aku bisa bahagia sedang yang kuinginkan hanya dirimu sepanjang hidupku. Aku selalu meminta agar engkaulah yang menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Agar engkaulah yang merawatku saat rambutku memutih dan sakit. Aku selalu berdoa agar takdirku selamanya adalah kamu. Tunjukkan padaku bagaimana caranya?” ucap Alan menatap ara yang tertunduk.

“Kia... Aku tidak tahu harus bagaimana. Kamu terlalu baik untuk kusakiti. Tapi sungguh aku tidak akan bisa marah padamu mengapa kamu memiliki perasaan cinta kepadaku, karena akupun tidak bisa menolak rasa cintaku pada Ara.”

“Kia.. kamu sudah banyak membantuku, mengatasi dan mengabarkan tentang Ara hingga mengobati rasa rinduku kepadanya. Kamu pasti sangat terluka setiap kali aku meminta kabar Ara kepadamu.” Sambung Alan kemudian.

“Kalian wanita yang luar biasa. Aku tidak pantas memyakiti kalian. Aku tidak bisa. Selamanya aku tidak bisa.” Ucap Alan. Suaranya begitu rendah, hampir-hampir tidak terdengar.

“Katakan aku harus bagaimana?!” Alan berteriak. Perasaan bersalah bercampur rasa cintanya yang membuncah. Ia meninjukan kepalan tangan kanannya pada sebatang pohon palem yang juga menghiasi taman itu. diantara cemara dan lampu-lampu taman. Burung-burung di pepohonan terkaget dan keluar dari sarangnya, lalu terbang menghilang entah kemana. Dibalik awan-awan yang mulai menguning.

“Alan....” suara Kia bergetar.

“Bersediakah kamu menikahi Ara? Ini permintaanku” Kia meyakinkan. Ia melangkah menuju Alan yang menghadapkan wajahnya di pohon palem dan meletakkan kepalanya diatas tangan kanannya. Airmatanya menempel di pohon palem.

“Kamu juga tidak ingin menyakiti perasaanku, bukan? Setelah kamu menikahi Ara, kamu boleh menikahiku. Aku tidak peduli kamu mencintaiku atau tidak. Aku hanya ingin kita tetap bersama, seperti harapan mama ketika kita berjanji kala itu.” ucap Kia.

Konflik: Baru mengetahui dan menyadari bahwa Zaskia memiliki perasaan cinta kepada Alan.
Latar (tempat) : taman kota yang penuh dengan bunga
Latar (waktu) : sore hari yang cerah
Latar (suasana) : keharuan

#tantanganodop2 bagian 2
#odopbatch6
#onedayonepost

1 komentar: