Jumat, 21 September 2018

Cinta Ara 5



Bagian 5

Bulan menelisik. Membelah wajah Ara di atas sajadahnya. Berkali-kali ia dirikan shalat agar hatinya menjadi tenang. Berdoa dan menangis diperaduan malam sunyi. Menghiba pada Rabb Sang Maha Pemilik Hati.

Apalah daya Ara. Seorang hamba biasa. Meski segalanya telah ia miliki, paras cantiknya, kecerdasan, dan kebaikan yang nyaris sempurna. Ia patutlah bersyukur. Kali ini, dengan ketidakberdayaannya, ia tak tahu harus berbuat apa.

Sebenarnya, Ara juga memiliki perasaan yang sama kepada Alan. Namun Ara sangat menghormati janji mereka saat sekolah dulu. Terlebih janji itu mereka ungkapkan di pusara ibunda Kia. Ibunda Kia menginginkan persahabatan mereka abadi. Kia anak satu-satu yang ibundanya miliki. Terlebih Kia telah menjadi yatim diusia belia. Alan dan Ara mengiyakan untuk menjaga persahabatan mereka selamanya.

“Dear, Alan..
Kuharap esok pagi kamu belum bersama orangtuamu kemari. Ada banyal hal yang harus aku persiapkan. Aku ingin bicara kepadamu juga Kia esok sore di taman. Kuharap kamu hadir.”
Kia mengirimi pesan whatsapp kepada Alan malam itu.

“Siap, tuan putri 🙂 Tulis Alan membalas pesan Ara.

***

Hari yang sangat cerah. Mentari tersenyum sumringah meski perlahan ia harus terbenam di ufuk barat. Di taman itu. Disana ada kursi terbuat dari kayu berwarna cokelat mengkilap tersusun berderet, tepat di samping pohon cemara yang juga berbaris. Dan diantara tiap dua bangku, diselipkan sebuah lampu taman yang tingginya sejajar dengan orang dewasa kala duduk di bangku tersebut. Taman yang cukup luas. Berbagai bunga tumbuh disana. Taman yang tidak terlalu ramai, tidak pula sepi. Di pinggir taman ada jalan setapak beralaskan keramik berwarna-warni, senada dengan warna-warna bunga yang tumbuh di taman. Sangat cantik. Secantik mentari sore itu.

Pukul 16.00 WIB.

“Apakah aku terlambat?” ucap Alan.

“Tidak, kamu tidak terlambat, hanya saja kami yang sampai duluan.” Ucap Kia tersenyum.

Ara hanya tersenyum tipis. Senyumnya nampak berbeda dari senyum-senyum sebelumnya. Perasaannya tak bisa ia kendalikan. Kebimbangan dan keputusan memilih diantara dua pilihan. Menerima lamaran Alan dan mengingkari janji kepada ibunda Kia atau menolak Alan dan mempertahankan persahabatan mereka. Entahlah. Detik itu juga, Ara masih bingung.

“Alan... Kamu bersungguh-sungguh mencintai Ara? Apakah kamu ingat janji kita bertiga sembilan tahun lalu?” Kia memulai perbincangan itu.

Suasana nampak hening dalam beberapa waktu. Tak ada yang bergeming. Alam sekitar seolah menjadi saksi.

“Kia. Aku sudah mencoba, tapi aku tidak bisa!” Alan membuka suara. Kali ini wajah humorisnya tidak kentara sama sekali. Ia amat serius kali ini.

“Aku tidak pernah memupuknya. Perasaan ini hadir begitu saja. Bila kamu bertanya bagaimana perasaan ini ada, aku tidak tahu jawabannya. Aku sudah memcoba untuk menafikan perasaan ini. Pergi ke luar kota bukanlah pinta orangtuaku. Itu semua atas permintaanku. Saat itu benih-benih perasaan muncul dihatiku. Aku bertahan dan berusaha tidak melihatnya, tidak akan pula menemuinya. Tapi aku tidak sanggup. Bahkan melihat rumahnya sajapun sudah mengobati rasa rinduku. Aku sudah berusaha Kia, tapi aku tetap tidak bisa. Maafkan aku telah melanggar janji kita. Maafkan aku telah melanggar persahabatan kita. Aku menyesal, Ki. Tetapi aku lebih menyesal lagi bila aku tak bisa mendapatkan Ara”. Alan bersikeras. Ia menunjuk Ara.

“Apakah cinta harus saling memiliki? Apakah karena kamu mencintai Ara lantas kamu harus memilikinya? Apakah cinta itu demikian, Alan?” Kia bertanya dengan tegas. Airmatanya jatuh tak tertahankan.

“Bila memang demikian, apakah aku juga harus memilikimu?”

“Apa maksudmu, Kia?” Alan menelisik membalikkan badannya. Menatap dengan seksama sahabat kecilnya itu.

“Iya, Alan. Seperti halnya dirimu. Aku pun sudah mencoba memendamnya, membuangnya jauh-jauh. Tapi aku kalah. Perasaan ini semakin menguat. Awalnya aku pikir akan berhasil, tapi semakin hari aku tidak bisa lagi menahan.” Kia terduduk lemah. Ia berhasil meluapkan segala perasaan yang ia pendam selama ini.

“Aku mencintaimu, Alan.” Suara Kia semakin parau, tertahan oleh tangisnya.

BERSAMBUNG...

#odopbatch6
#onedayonepost

Tidak ada komentar:

Posting Komentar