Senin, 17 September 2018

Cinta Ara 3



Bagian 3

Malam itu, hujan masih setia membersamai sejak sore tadi. Ara duduk di dekat jendela kamar tidurnya. Memandangi rintikan hujan yang menempel di kaca jendela. Hujan yang terasa tenang. Tanpa kilat atau petir yang mengiringi. Ia membasahi atap jendela dan bersuara di atasnya. Bernyanyi. Mengiringi lamunan Ara malam itu.
“Allahumma Shoyyiban nafi’an” lafaz Ara berulang kali.
Ia masih termenung. Menatap jalan-jalan yang basah. Pengendara sepeda motor sepi tak bergairah. Hanya mobil yang sedari tadi sibuk lalu lalang. Genangan air di tengah jalan, menyembur ke kiri dan ke kanan.
Tepat di depan rumah, pedagang sate masih setia membunyikan klontong bambu, menawari dagangannya. Beratapkan payung berwarna merah dan berserat biru yang cukup besar untuk menaungi ia dan gerobaknya. Di sampingnya ada tenda. Ada dua buah bangku biru beserta meja, tempat makan para pelanggan sate itu.
Ara tersenyum. Ia teringat pada masa putih biru dulu. Saat tanggal 10 November di hari ulang tahunnya. Alan memanggil pedagang sate ke depan gerbang sekolah. Lalu menraktir semua teman-teman sekelas karena hari itu ulang tahun Ara. Ia melobi abang sate. Tagihan Alan kurang seratus ribu rupiah. Rupanya teman-teman sekelas sangat lapar dan makan dengan sangat lahap. Sambil tersenyum, Ara memberikan sisa tagihannya.
“Nanti aku ganti ya, Ra.” Celetuk Alan tersipu malu sambil menggaruki kepalanya yang tidak gatal.
“Nggak perlu. Malah aku yang berterima kasih padamu. Seharusnya aku yang bayari mereka semua lho.” Ucap Ara.
“Makanya kalo mau nraktir, dompetnya harus tebal dong, bikin malu, tau!!... hahaaa” celetuk Zaskia, menjaili Alan.
“Hahahaaa...”
Mereka bertiga tertawa.
***
Ara masih termenung. Matanya mengideri sekelilingnya. Kali ini ia memandangi kamar tidurnya. Kamar bercat putih bersih yang tertata dengan rapi. Di samping dipan tidurnya, ada dua buah rak buku yang terisi penuh. Di pojok kamar, ada sebuah meja dan kursi kerja, lengkap dengan laptop dan beberapa buku yang sedang dibaca. Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah kertas merah di atas laptopnya. Kertas itu nampak asing. Sehari sebelumnya belum ada.

Cinta itu seperti magnet
Saling bertolak belakang
Namun saling tarik menarik
From: AS

Surat yang sama. Berinisial AS.
“A l a n  S a t r i a??”
“Apakah surat-surat ini dari Alan?”
Ia mencari surat-surat lainnya yang ia letakkan di laci meja. Mengobrak-abrik dan mendapatinya dalam tumpukan yang menggunung.
Jogja, 10 Januari. Jogja 10 Februari. Jogja 10 Maret.” Hampir setiap bulan dan ditanggal yang sama surat itu datang.
“Ah, bagaimana aku baru menyadarinya bahwa semua surat-surat ini dari Alan? Aku terlalu sibuk hingga tidak menyadari semua ini.” Ara tertegun. Ia merasa seperti orang bodoh yang baru saja mengetahui sesuatu. Selama bertahun-tahun, di malam itu, ia baru menyadari bahwa AS adalah inisial dari sahabat kecilnya.

Konflik : Baru menyadari dan mengetahui seseorang yang mengirimi surat setelah sekian tahun lamanya
Latar : waktu (pada malam hari dan turun hujan), tempat (di dalam kamar tidur), suasana (bimbang)

#tantanganODOP2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

11 komentar:

  1. jadi keinget sobat masa kecil 😅😅😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ciee, ehem.. Ehemm.. Cuit, cuit..
      Apalah, kan 'sobat'doang..😅

      Hapus
  2. Aku dulu juga sering dikirimin surat dari orang,
    Aku simpen dr SD sampai SMA

    Pas kuliah karna udah dianggap gak penting jd hilang entah kemana,
    Memang gak ada perasaan apapun, tp lucu aja suka.baca surat dari kecil yg isinya kadang kebanyakan curhatan anak ingusan saat slek sama temennya..
    Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang malu sendiri yah, ouh ternyata gw pernah 'alay'😂😂

      Hapus
  3. aku suka,cerita anak muda ....bisa ikut bernostalgia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih.. Kan emang masih berjiwa muda.. 😍😍

      Hapus
  4. jaman SMP pernah dapet surat tuh, dikirim ke rumah pake pos. saya bela-belain cari rumah sesuai alamat yang tertera di surat. Tapi gak ketemu! Dan setelah berpuluh-puluh tahun kemudian pun, saya gak pernah tau itu surat dari siapa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, surat misterius.. Dari secret admirer kali yahh.. 🤓

      Hapus
  5. Balasan
    1. Sampaikan salamku, saya pinjam namanya untuk beberapa waktu kedepan. ☺

      Hapus