Minggu, 16 September 2018

Cinta Ara 2



Bagian 2



 ***

Kejadian yang tak terduga

Hari itu hujan tidak terbendung lagi. Ara masih setia dengan kendaraan roda dua kesayangannya, hadiah dari almarhum kakeknya. Ia berteduh di perpustakaan tepat dipinggir jalan kota. Orang-orang berduyun mencari tempat berteduh. Kebiasaan pengendara sepeda motor di negeri +62, mereka tidak pernah menyiapkan mantel hujan di jok motor. Tapi tidak termasuk Ara. Pada hari itu ia bukan sengaja tidak membawa mantelnya. Ia meminjamkannya pada Zaskia, sahabatnya yang sedang mendaki gunung.

Dua jam berlalu awan masih gelap. Jentik-jentik hujan masih mengalun berirama dan air mulai menggenang di ruas jalan. Keresahan Ara kian menjadi karena malam akan segera datang.

“Sudah menunggu dua jam, nanti kamu pulang kemalaman, biar aku antar kamu pulang ya.”
Pesan whatsapp dari Alan, teman masa kecilnya dulu. Sejak lulus SMP, Alan melanjutkan strata satunya di Jogjakarta. Ayahnya pindah tugas dan sekeluarga harus diboyong kesana.
Belum sempat Ara membalas pesan itu, sebuah mobil putih berhenti tepat di depan Ara.

“Ra, ayo kuantar pulang.” Tawar Alan dari dalam mobil putih itu.

“Kamu hanya mengajakku pulang tidak mengajak motorku?” tanya Ara.

“Boleh, kalo bisa dikresekin. Hahahaa...” Alan tertawa lepas.

Tanpa pikir panjang, Ara segera menitipkan motornya di perpustakaan dan pulang bersama Alan.

Suasana nampak hening sesaat. Ara hanya menggesek-gesekkan kedua tangannya lalu beberapa kali meniupnya.

“Enam tahun nggak ketemu yah. Ara makin pintar dan dewasa sekarang.” Alan membuka obrolan, memecah suasana hening.

“Ah, aku jadi grogi gini. Beruntung banget bisa jalan sama artis.” Alan lagi-lagi berulah.

“Artis?” Ara hanya mengernyitkan dahinya.

“Lalu apa namanya kalo wajahnya selalu wara-wiri di majalah, di koran, kadang juga di tv sebagai sosok inspirator. Banyak tuh yang menceritakan tentang kamu.” Alan terus berceloteh sambil memandang ke depan dan melingkari kedua tangan pada stir mobil.

Ara hanya menyimpul senyum. Dia tidak banyak berkomentar. Karena memang bila berbicara dengan Alan, ia tidak perlu banyak berbicara. Alan sosok yang humoris. Bahan pembicaraannya tak pernah habis. Ada saja bagian-bagian yang seru ia ceritakan.

“Sudah sampai tuan putri,” ledek Alan.

Lagi. Ara hanya tersenyum.

“Terima kasih, Alan.”

Ara bergegas turun. Beruntung hujan telah reda.

“Ra....”

“Iya...” Ara membalik badan dan memandangi Alan.

“Motornya besok pagi aku antar yah.”

“Iya, maaf merepotkan yaa, Alan.”

“Don’t mention it. Aku suka kok direpotin sama Ara,” canda Alan.

Ara hanya tersenyum setiap kali mendapati tingkah polah sahabat kecilnya itu.

“Araaa...” Panggil Alan untuk kedua kalinya.

“Iya...”

Alan menunduk. Cukup lama ia memulai kata-kata. Kedua tangannya hanya melengkungi stir mobil.

“Alan?”

“Ra, besok aku kesini lagi,” ucap Alan. Nada bicaranya merendah kali ini. Intonasinya pun tampak serius.

“Iya, kamu udah bilang tadi, mau anterin motorku, kan?” tanya Ara memastikan.

“Oh, iya tentu saja. Tapi...” ucap Alan tertatih.

"Tapi apa? 

“Tapi dengan kedua orangtuaku. Aku akan melamarmu besok...” Bibir Alan menyimpul senyum, pipinya menjadi merah karena malu. Akhirnya kata itu dapat terucap pada sosok idamannya, Ara. Apakah Ara akan menerima pinangan Alan?

BERSAMBUNG...

#odopbatch6
#onedayonepost

1 komentar: