Minggu, 30 September 2018

Burung Pipit Serakah

Sumber gambar: wikipedia.org
Konon, di sebuah negeri tinggallah komunitas burung pipit. Pada masa itu, hewan-hewan bisa berbicara seperti layaknya manusia.

Suatu hari di negeri Tipip terjadi masa paceklit. Negeri tersebut mengalami kemarau panjang. Akibatnya tanaman menjadi layu dan mati. Tanah menjadi kering dan retak-retak. Banyak hewan yang turut mati akibat dehidrasi dan kehilangan tempat tinggal. Melihat kondisi itu semua, raja pipit mengadakan rapat paripurna dan mengundang seluruh ketua-ketua wilayah. Terjadilah diskusi diantara mereka.
"Wahai ketua-ketua. Saya ingin mendengarkan pendapat kalian tentang musim kemarau yang berkepanjangan ini." kata raja burung pipit membuka rapat paripurna.

"Wahai, Raja. Rakyat di wilayah Barat banyak yang mati akibat kekurangan air serta makanan yang sulit dicari hingga mati kelaparan." ucap ketua burung pipit.

"Wahai, Raja. Kami pun mendapati hal yang sama. Istri dan anak-anak kami di wilayah Timur mendesak untuk pindah pemukiman. Disini sudah tidak nyaman lagi." timpal ketua lainnya.

"Baiklah. Kita akan mencari pemukiman baru yang lebih baik. Apakah ada pendapat kemana kita akan menuju?" tanya raja.

"Wahai, Raja. Saya tadi berjumpa gajah. Mereka berbondong-bondong menuju selatan. Tidak hanya gajah, hewan lainnya pun turut ke selatan. Kabarnya disana ada negeri yang damai, tempat yang sejuk lagi berlimpah ruah buah-buahan." ucap ketua pipit selatan.

"Benarkah demikian? Baiklah, kita akan menuju kesana malam ini juga. Segera kabarkan warga kalian untuk bersiap-siap." titah raja.

"Siap!!" sambut para ketua sigap.

Malam hari, barisan burung pipit telah memenuhi udara, bersiap konvoy penerbangan menuju arah selatan. Sang raja di posisi paling depan, diikuti barisan kedua oleh para ketua, dan rakyat biasa di belakangnya.

Perjalanan bermil-mil berhasil ditempuh. Mereka pun kembali berdiskusi diperjalanan.
“Lihat, Raja. Disini banyak makanan!” teriak rakyat pipit menunjuk sebuah hutan yang penuh dengan buah-buahan.
Mereka semua turun ke hutan dan menikmati suasana dan makanan yang banyak.
"Wahai, Raja. Bagaimana kita bermukim disini saja. Tampaknya disini udara terasa sejuk dan terdapat banyak makanan pula." ucap ketua pipit.
"Wahai, Raja. Aku kurang setuju. Bagaimana bila kita melanjutkan lagi perjalanan kita. Bila disini saja makanan berlimpah, pasti semakin ke selatan semakin banyak makanan yang bisa kita makan." ucap sang ketua pipit lainnya.

"Baiklah. Kita akan melanjutkan kembali perjalanan kita hingga jauh." titah raja.

Mereka kembali terbang. Melewati lembah dan hutan. Terbang melaju kearah selatan. Semakin ke selatan udara semakin dingin. Butir-butir salju mulai berjatuhan.

"Wahai, Raja. Bagaimana bila kita menghentikan perjalanan dan kembali ke tempat sebelumnya." ucap ketua barat.

"Wahai, Raja. Tidak mungkin kita tinggal disini, disini sangat dingin. Bisa-bisa kita mati kedinginan." ucap ketua timur.

"Kita terus saja terbang, disana pasti kita menemukan tempat tinggal dan menyelesaikan salju-salju ini." tambah pipit lagi meyakinkan sang raja.

Merekapun kembali terbang dan mempercepat kepakan sayap. Butir-butir salju turun semakin lebat. Satu persatu burung pipit akhirnya gugur, keberatan akibat tumpukan salju yang tertimbun di badan.
Akhirnya, mereka pun berjatuhan, tertimbun salju, dan mati.

#odopbatch6
#onedayonepost

Tidak ada komentar:

Posting Komentar