Rabu, 05 September 2018

Belajar Bela Diri, Pentingkah???



Aku sempat bingung saat pertama kali ibu menyuruh ku mengikuti ekskul karate di sekolah. Soalnya jadwal kegiatan ku sudah sangat padat. Hampir semua ekskul aku ikuti. Mulai dari sanggar tari, ROHIS, Pramuka, Polisi Keamanan Sekolah, dan KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) semua kujabani. Hari minggu pun juga sering tidak libur. Ada kegiatan Persami (Perkemahan Sabtu-Minggu), Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa), atau belajar kelompok. Jujur aku tidak suka tanpa kegiatan, tidak suka berlama-lama di rumah, menonton, tidur, dan makan, menurut ku itu sungguh tidak asyik. Maka aku ikuti banyak ekskul.
Loh, koq jadi malah curhat ya? Gapapa, mumpung curhat masih gratis, kalo berbayar kan repot yaa.. heheee Tapi ada hubungannya koq. Nah, dengan aktifitas sekolah yang padat merayap itu (kayak istilah macet aja 😆), ibu mendaftarkan aku ekskul karate. Hmm.. aku yang suka belajar, dengan serta merta meng-iyakan permintaan ibu.

Well, fix jadwal latihan karate ku hari rabu jam 2.30 siang, setelah pulang sekolah. Pekan demi pekan akhirnya aku menikmati latihan. Karena perawakanku yang tinggi, aku menjadi salah satu yang diandalkan dan ditargetkan oleh guru olahraga untuk fokus dan berlatih serius, bahkan bila memungkinkan ditambah jam latihannya. Karena masih newbie, belum ada pembagian spesialisnya, apakah kata atau kumite.
Aku mendaftar karate diawal semester di kelas XII. Setelah 6 bulan aku rutin berlatih, aku harus dengan rela mengikhlaskan latihanku dan menggantikannya dengan bimbel di sekolah untukpersiapan Ujian Nasional (UN) beberapa bulan yang akan datang. Sejak itu, rabu ku tidak pernah lagi latihan karate, hanya beberapa kali aku berlatih sendiri di rumah, kadang sambil menggoreng tempe, sambil merebus air, aku ulangi jurus-jurus kata.

Setelah lulus SMA, aku melanjutkan kuliah. Aku adalah salah satu anak desa yang berhasil berangkat kuliah di kota dengan beasiswa. Hari-hari kujalani di kota. Aku mengendarai motor hendak menjemput temanku di kost nya. Belum pula sampai, ada sebuah motor datang dari arah belakang dan menyerempet motor yang tengah ku kendarai. Kulihat dengan samar, dua orang lelaki berboncengan. Laki-laki di belakang mencoba mengambil tas yang aku gantungkan di depan, dan lelaki satunya terus berusaha menyerempet motor ku agar jatuh. Dengan kaki ku yang jenjang, aku menendangkan motor mereka, aku terus membela diri. Ku gas motor meski tanganku gemetar. Akhirnya, aku berhasil melewati mereka, dan beruntung ada beberapa pedagang kaki lima sehingga mereka pun melepaskanku.
Beberapa waktu setelahnya, di tengah hujan di siang hari, aku meneduh di sebuah toko parfum laundry. Jalan yang cukup sepi. Kendaraan yang lalu lalang sibuk mengawasi percikan-percikan air hujan di kaca mobil atau fokus melihat jalan. Aku yang sedang menunggu hujan reda merasa cukup bosan dan mengotak-atik hape ku.
“Mbak, kuliah dimana?” tanya seorang laki-laki yang juga berteduh di toko ini.
“di kampus dekat sini, om” ucapku sambil melirik sesekali dan lanjut memainkan hape ku.
“Tok.. tok... tok....”
Lelaki itu mengetuk pintu toko. Tak ada jawaban.
“Tokonya nggak ada orang ya mbak?” tanyanya lagi.
“Oh, kurang tau om, coba ajak diketuk lagi, mungkin orangnya nggak denger” jawab ku lagi dengan agak ketus karena tengah asyik dengan hape.
“Haap......”
Sekonyong-konyong hape di genggamanku hendak dirampas lelaki itu. Reflect aku merebut kembali hape ku dan mendorong lelaki itu hingga nyaris tersungkur di trotoar jalan.
Aku berteriak meminta tolong, namun tak ada satupun yang membela dan menghampiriku. Hujan yang cukup deras hingga mungkin tak terdengar orang lain.

Meski takut, aku harus memberanikan diri, tak ada yang bisa kuandalkan selain diriku sendiri saat itu. Sekelebat aku teringat jurus-jurus karate yang pernah kupelajari. Aku sudah siap dan memasang kuda-kuda, bisa saja dia menyerangku. Ia hanya  melihat ku dengan tatapan marah dan membalikkan badannya dan berlalu dengan motornya.

“Alhamdulillah...” Perlahan aku merasa lega, meski jantungku berdegup tidak beraturan.
Gerakan-gerakan reflect ini bisa jadi adalah karena seringnya latihan karate dulu. Well, sampai sini aku menyimpulkan bahwa bela diri itu penting. Jadi ketika kawans mendapat kejadian seperti yang aku alami, tidak pasrah-pasrah saja, tapi ada pembelaan. Aku hanya sampai sabuk kuning, masih newbie banget kan yaa... tapi alhamdulillah bisa lolos dalam 2 tragedi itu. Dan aku baru tahu bahwa ibu sangat benar mendaftarku saat itu. 😇

#komunitasodop
#onedayonepost
#odopbatch_6

Tidak ada komentar:

Posting Komentar