Jumat, 28 September 2018

Alif, Kakek, dan Keranjang

sumber dok: https://forum.idws.id

Suatu hari, di desa Ujung Gunung Ilir tinggallah seorang kakek dan cucu laki-lakinya, bernama Alif. Sang kakek hanya bekerja menjadi petani.
Suatu hari pada siang yang cerah, sang kakek duduk di bangku kayu di depan rumahnya. Ia tengah beristirahat sejenak dari aktivitas bertaninya. Ternyata si kakek sedang membaca Al Qur’an. Sudah bukan hal yang aneh bagi si kakek dikala sedang istirahat dan menyelesaikan shalat dzuhurnya, ia membaca Al Qur’an.

Alif sedari tadi duduk mendengarkan kakek membaca Al Qur’an. Bacaan yang indah dan membuat Alif terbuai.

Setelah kakek selesai membaca Al Qur’an, sambil bertopang dagu dan terkantuk-kantuk Alif bertanya pada sang kakek, “Apakah kakek mengetahui artinya?”

“Tidak.” Jawab kakek tersenyum.

“Lalu mengapa kakek selalu membacanya? Kan kakek tidak tahu artinya?” tanya Alif ingin tahu.

“Berdirilah.” Pinta kakek.

Alif pun kemudian berdiri, meski ia bingung mengapa kakek tidak segera menjawab pertanyaannya.

“Ambillah pikulan keranjang itu.” Perintah kakek.

Alif semakin heran dan bingung. Namun ia tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh kakeknya.

“Bawalah pikulan ini, Lif. Lalu kamu isi penuh ember ini.” Pinta kakek lagi.

Tanpa berpikir panjang, Alif langsung menunaikan perintah kakek yang sangat ia hormati itu.
Sekali... dua kali.. tiga kali... bahkan tak terhitung berapa kali Alif membawa pikulan yang berisi air tersebut. Sampai di sungai, Alif mengisi penuh keranjang-keranjangnya. Di tengah perjalanan, air dalam keranjang menetes terus-menerus. Tiba diember, keranjang sudah kosong dan air habis dijalan. Alhasil ember itu tidak juga penuh.

“Bagaimana ember ini akan penuh, Kek? Setiap kali aku membawa penuh air, selalu habis sebelum sampai rumah.” Ucap Alif. Napasnya tersengal.

Kakek hanya tersenyum.

“Mengapa kakek tersenyum?” tanya Alif semakin heran.

Kakek membawa pikulan. Ia melangkah menuju sungai. Alif mengikuti kakek.

“Cucuku. Lihatlah bunga-bunga ini.” Ucap kakek.

“Jadi lebih segar.” Jawab Alif sekenanya.

“Ketika kamu membawa air dalam keranjang, secara tidak sengaja bunga-bunga ini turut disirami. Maka ia menjadi segar seperti yang kamu lihat sekarang.” Jawab kakek mantap.

“Kau lihatlah pikulan keranjang ini.” Ucap kakek, meletakkan pikulan yang di pundaknya ke bawah.

“Keranjang ini tadinya kotor penuh dengan lumpur. Tetapi kamu isikan air secara berulang-ulang hingga membuat keranjang ini bersih seperti dicuci.” Lanjut kakek.

Alif memerhatikan bunga dan keranjang, lalu bertanya, “Apakah ada hubungannya dengan membaca Al Qur’an, Kek?”  Rupanya ia masih belum paham apa yang dimaksud oleh kakek.

“Begitulah saat kita membaca Al Qur’an. Kita mungkin belum tahu artinya tetapi rutin membaca Al Qur’an akan membersihkan hati-hati kita sebagaimana keranjang kotor tadi. Ia juga akan menghidupkan alam sekitar karena keindahannya. Seperti kamu tadi yang terbuai mendengar bacaan kakek.” Ujar kakek sambil menggosok-gosok kepala Alif.

Alif nyengir.

#odopbatch6
#onedayonepost

Tidak ada komentar:

Posting Komentar