Minggu, 30 September 2018

Ketika Sang Tuan Menyapa



Source: hidayatullah.com
Belum kering sudah rasanya. Beberapa waktu lalu Indonesia ditimpa musibah gempa. Nusa Tenggara Barat. Ribuan rumah hancur rata dengan tanah. Ratusan orang meninggal dunia. Belum lagi jumlah warga yang masih mengungsi sampai dengan saat ini.

Kemarin, tepat tanggal 28 September 2018, Indonesia kembali ditimpa musibah. Gempa dan Tsunami menyapa masyarakat di Palu, Donggala, Sulawesi Tengah. Gempa 7,7 sr tersebut tidak kalah dahsyatnya. Ia berhasil memporak-porandakan pinggiran pantai hingga kotanya dengan luapan air setinggi 1,5-2 meter berasal dari tengah laut yang retak. Berapa jumlah yang terdampak? Banyak. Ratusan meninggal dunia. Belum lagi final jumlahnya. Ada kemungkinan terus bertambah.

Kita bisa apa ketika Allah sudah berkehendak? Allah Rajanya manusia. Allah yang menciptakan langit yang terbentang kokoh tanpa tiang. Allah yg menciptakan makhluk-makhluk dengan milyaran keanekaragaman. Allah yang menciptakan bumi dan seluruh jagad raya. Bintang-bintang yang membentuk pola, berkedap kedip di malam gelap. Matahari yang bersinar. Awan-awan yg putih nan bersih. Pohon-pohon yang hijau menyejukkan.

Kita bisa apa ketika Sang Tuan sudah berkehendak. Ibarat rumah, kita ini hanyalah menumpang pada fasilitas yang telah dititipkan pada kita. Sebagai orang yang menumpang, tentu kita harus banyak-banyak mengambil hati Sang Tuan. Menjaga dan merawat fasilitas yang telah Sang Tuan berikan. Menaati semua peraturan di 'rumah' Sang Tuan. Bila kita berlaku tidak sopan atau menyakiti Sang Tuan, salah-salah fasilitas akan ditarik oleh Sang Tuan. Kita siap-siap untuk tuna wisma. Namun sayangnya, kita tidak punya apa-apa selain dari apa yang Sang Tuan berikan. Saat kita lahir, jangankan harta, bahkan selembar kain pun kita tak punya.

Sang Tuan yang Maha Baik memberikan segalanya. Napas, rupa yang indah, harta yang bergelimpah dimana-mana, hanya saja butuh usaha untuk mendapatkannya, dan 'rumah' tempat berkarya. Berkarya untuk akhirat dan dunia. Sang Tuan tetap saja baik meski kadang kita sesekali ‘nakal’.

Allah Sang Tuan. Kita hanyalah hamba-Nya yang diberi durasi dan fasilitas.
Gempa, Tsunami, ditambah gunung-gunung yang masih berstatus awas, merupakan teguran dari Sang Tuan. Bisa jadi karena kesombongan dan kepongahan yang kita perbuat. Atau teguran bagi kita yang sudah melampaui batas berkhianat. Ingin menduakanNya dengan materi, ingin menduakanNya dengan dunia. Bahkan sang kepercayaan Nya, Nabi SAW pernah mengatakan, bangkai kambing lebih baik dari dunia dan seisinya. Lalu kita menuankan dunia, lalu kita menuhankan dunia.

Ingatkan kita saat dalam rahim ibunda, kita terikat ikrar melalui syahadat. Lalu kita lupa karena terlena oleh dunia. Coba kita pikir-pikir dengan jeli, sudahkan kita mengabdi sepenuhnya pada Sang Tuan yang telah memberikan segalanya dalam hidup kita? Shalat lima waktu, berpuasa, berzakat, dan haji dalam rukun Islam. Sudahkah kita indahkan perintahNya dalam Al Qur'an? Menggunakan hijab, tidak saling membunuh, tidak mengkafirkan sesama muslim, tidak melakukan seperti yang dilakukan Fir'aun, kaum Nabi Luth, dan kaum Nabi Nuh.

Baiklah. Sebut saja bencana yang bertubi-tubi itu adalah peringatan bagi kita yang telah mengkhianatiNya. Lalu apakah kita masih punya nyali untuk tidak taat padaNya? Mumpung napas masih dikandung badan. Kembalilah kita merayu Sang Tuan dalam taubat nasuha, taubat yang sebenar-benarnya.

Beribadah sebanyak apapun kita, tidak akan menambah Kemaha Agungan Nya sebagai Sang Khalik. Sebaliknya, sedurhaka apapun kita kepadaNya, tidak akan pernah mengurangi KekayaanNya. Justru, kitalah yang merugi, tidak berada dikubu Nya, malah memilih berada dikubu lain yang pastinya tidak dapat membela suatu hari nanti. Ibadah kita, menunjukkan kita berada dikubu Nya. Lalu, berada dikubu manakah kita?

#odopbatch6
#onedayonepost

Burung Pipit Serakah

Sumber gambar: wikipedia.org
Konon, di sebuah negeri tinggallah komunitas burung pipit. Pada masa itu, hewan-hewan bisa berbicara seperti layaknya manusia.

Suatu hari di negeri Tipip terjadi masa paceklit. Negeri tersebut mengalami kemarau panjang. Akibatnya tanaman menjadi layu dan mati. Tanah menjadi kering dan retak-retak. Banyak hewan yang turut mati akibat dehidrasi dan kehilangan tempat tinggal. Melihat kondisi itu semua, raja pipit mengadakan rapat paripurna dan mengundang seluruh ketua-ketua wilayah. Terjadilah diskusi diantara mereka.
"Wahai ketua-ketua. Saya ingin mendengarkan pendapat kalian tentang musim kemarau yang berkepanjangan ini." kata raja burung pipit membuka rapat paripurna.

"Wahai, Raja. Rakyat di wilayah Barat banyak yang mati akibat kekurangan air serta makanan yang sulit dicari hingga mati kelaparan." ucap ketua burung pipit.

"Wahai, Raja. Kami pun mendapati hal yang sama. Istri dan anak-anak kami di wilayah Timur mendesak untuk pindah pemukiman. Disini sudah tidak nyaman lagi." timpal ketua lainnya.

"Baiklah. Kita akan mencari pemukiman baru yang lebih baik. Apakah ada pendapat kemana kita akan menuju?" tanya raja.

"Wahai, Raja. Saya tadi berjumpa gajah. Mereka berbondong-bondong menuju selatan. Tidak hanya gajah, hewan lainnya pun turut ke selatan. Kabarnya disana ada negeri yang damai, tempat yang sejuk lagi berlimpah ruah buah-buahan." ucap ketua pipit selatan.

"Benarkah demikian? Baiklah, kita akan menuju kesana malam ini juga. Segera kabarkan warga kalian untuk bersiap-siap." titah raja.

"Siap!!" sambut para ketua sigap.

Malam hari, barisan burung pipit telah memenuhi udara, bersiap konvoy penerbangan menuju arah selatan. Sang raja di posisi paling depan, diikuti barisan kedua oleh para ketua, dan rakyat biasa di belakangnya.

Perjalanan bermil-mil berhasil ditempuh. Mereka pun kembali berdiskusi diperjalanan.
“Lihat, Raja. Disini banyak makanan!” teriak rakyat pipit menunjuk sebuah hutan yang penuh dengan buah-buahan.
Mereka semua turun ke hutan dan menikmati suasana dan makanan yang banyak.
"Wahai, Raja. Bagaimana kita bermukim disini saja. Tampaknya disini udara terasa sejuk dan terdapat banyak makanan pula." ucap ketua pipit.
"Wahai, Raja. Aku kurang setuju. Bagaimana bila kita melanjutkan lagi perjalanan kita. Bila disini saja makanan berlimpah, pasti semakin ke selatan semakin banyak makanan yang bisa kita makan." ucap sang ketua pipit lainnya.

"Baiklah. Kita akan melanjutkan kembali perjalanan kita hingga jauh." titah raja.

Mereka kembali terbang. Melewati lembah dan hutan. Terbang melaju kearah selatan. Semakin ke selatan udara semakin dingin. Butir-butir salju mulai berjatuhan.

"Wahai, Raja. Bagaimana bila kita menghentikan perjalanan dan kembali ke tempat sebelumnya." ucap ketua barat.

"Wahai, Raja. Tidak mungkin kita tinggal disini, disini sangat dingin. Bisa-bisa kita mati kedinginan." ucap ketua timur.

"Kita terus saja terbang, disana pasti kita menemukan tempat tinggal dan menyelesaikan salju-salju ini." tambah pipit lagi meyakinkan sang raja.

Merekapun kembali terbang dan mempercepat kepakan sayap. Butir-butir salju turun semakin lebat. Satu persatu burung pipit akhirnya gugur, keberatan akibat tumpukan salju yang tertimbun di badan.
Akhirnya, mereka pun berjatuhan, tertimbun salju, dan mati.

#odopbatch6
#onedayonepost

Belajar dari Iblis



Anda pasti terkaget dan heran, mengapa kita harus belajar dari si iblis. Jelas-jelas iblis dan sejenisnya akan selalu membawa kepada keburukan.

Ya. Itu judul yang benar. 'Belajar' dari Iblis. Saya tidak mengatakan belajar kepada iblis ya, tetapi belajar dari iblis.
Bukan iblis yang kita jadikan guru, tetapi Anda bisa mengambil hikmah dari kisah iblis.
Source: pixabay

Apa yang bisa kita pelajari dari iblis? Ada tiga hal, yaitu visioner, komitmen, dan gigih.

1. Visioner
Anda pernah mendengar atau membaca kisah iblis yang diturunkan dari surga? Ya. Perlu kita perhatikan bahwa, sejak saat itu iblis berjanji untuk menggoda manusia. Tidak hanya menggoda namun juga berusaha menyesatkan. Sejak saat itu pula hingga sampai pada hari kiamat iblis akan selalu menyesatkan manusia. Itulah visioner. Iblis telah merancang tindakannya yaitu menggoda dan menyesatkan manusia hingga hari kiamat. Bukan waktu yang singkat dan sesaat, tetapi waktu yang lama dan panjang.

Bagaimana dengan kita? Mungkin banyak diantaranya memiliki visi yang pendek, rendah, atau bahkan tidak memiliki visi atau tujuan yang jelas. Membiarkan kehidupan mengalir saja seperti air. Ingatlah bahwa air selalu mengalir ketempat yang lebih rendah dan lebih rendah lagi hingga bermuara di kubangan. So, miliki visi jangka panjang dan tentu berkemanfaatan.

2. Komitmen
Ketika iblis bertekad keras akan menyesatkan manusia, ia tidak pernah melenceng dari tekadnya tersebut. Justru dari masa ke masa semakin menjadi-jadi. Ia komitmen pada janjinya juga pada ikrarnya.

Bagaimana dengan komitmen kita? Ya. Mungkin banyak diantara kita yang awalnya sangat menggebu-gebu dan ambisius. Namun ketika dihadapkan dengan tantangan, langsung menciut nyali dan patah arang atau bahkan pesimis dan berakhir dengan pindah haluan; tak melanjutkan lagi tekad yang sejak awal dibangun.

Seperti di ODOP ini misalnya. Awalnya menggebu-gebu mencari tema, judul, menggali-gali ingatan tentang cerita lampau yang akan ditulis. Seminggu berjalan lancar, namun akhirnya tidak lagi memegang komitmen dan menyerah akibat di-kick oleh penghuni pulau. (semoga saya dan Anda yang membaca ini tidak termasuk).

3. Gigih
Kita tahu bahwa selama iblis menggoda dan menyesatkan manusia, pasti ada tantangannya. Namun dia tidak serta merta berhenti dan pasrah. Bila tidak berhasil dari arah depan, dia akan menggoda dari arah belakang. Bila tidak berhasil dari arah belakang, dia coba dari arah kiri dan kanan. Bila tidak berhasil juga, dia akan mencoba dari atas dan bawah. Sungguh gigih iblis itu, wajar saja banyak yang terpedaya akibat kegigihannya. (lagi-lagi, semoga kita bisa kuat melawan godaan iblis).

Ya, begitulah karakter iblis. Kita pun harus gigih. Bila suatu hari ketika telah melahirkan tulisan, mengirim ke penerbit, jangan lantas menyerah begitu saja bila sekali dua kali tulisan ditolak. Hal terpenting adalah kegigihan. Pun pada impian kita yang lain, terus mencoba dan berusaha hingga tercapai.

Kalau iblis saja bisa visioner, komitmen, dan gigih padahal mengajak ke neraka, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama untuk mencapai impian dan kebaikan? Semoga bermanfaat.
(Terinspirasi dari tausyah Kak Ono)

#odopbatch6
#onedayonepost

Jumat, 28 September 2018

Alif, Kakek, dan Keranjang

sumber dok: https://forum.idws.id

Suatu hari, di desa Ujung Gunung Ilir tinggallah seorang kakek dan cucu laki-lakinya, bernama Alif. Sang kakek hanya bekerja menjadi petani.
Suatu hari pada siang yang cerah, sang kakek duduk di bangku kayu di depan rumahnya. Ia tengah beristirahat sejenak dari aktivitas bertaninya. Ternyata si kakek sedang membaca Al Qur’an. Sudah bukan hal yang aneh bagi si kakek dikala sedang istirahat dan menyelesaikan shalat dzuhurnya, ia membaca Al Qur’an.

Alif sedari tadi duduk mendengarkan kakek membaca Al Qur’an. Bacaan yang indah dan membuat Alif terbuai.

Setelah kakek selesai membaca Al Qur’an, sambil bertopang dagu dan terkantuk-kantuk Alif bertanya pada sang kakek, “Apakah kakek mengetahui artinya?”

“Tidak.” Jawab kakek tersenyum.

“Lalu mengapa kakek selalu membacanya? Kan kakek tidak tahu artinya?” tanya Alif ingin tahu.

“Berdirilah.” Pinta kakek.

Alif pun kemudian berdiri, meski ia bingung mengapa kakek tidak segera menjawab pertanyaannya.

“Ambillah pikulan keranjang itu.” Perintah kakek.

Alif semakin heran dan bingung. Namun ia tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh kakeknya.

“Bawalah pikulan ini, Lif. Lalu kamu isi penuh ember ini.” Pinta kakek lagi.

Tanpa berpikir panjang, Alif langsung menunaikan perintah kakek yang sangat ia hormati itu.
Sekali... dua kali.. tiga kali... bahkan tak terhitung berapa kali Alif membawa pikulan yang berisi air tersebut. Sampai di sungai, Alif mengisi penuh keranjang-keranjangnya. Di tengah perjalanan, air dalam keranjang menetes terus-menerus. Tiba diember, keranjang sudah kosong dan air habis dijalan. Alhasil ember itu tidak juga penuh.

“Bagaimana ember ini akan penuh, Kek? Setiap kali aku membawa penuh air, selalu habis sebelum sampai rumah.” Ucap Alif. Napasnya tersengal.

Kakek hanya tersenyum.

“Mengapa kakek tersenyum?” tanya Alif semakin heran.

Kakek membawa pikulan. Ia melangkah menuju sungai. Alif mengikuti kakek.

“Cucuku. Lihatlah bunga-bunga ini.” Ucap kakek.

“Jadi lebih segar.” Jawab Alif sekenanya.

“Ketika kamu membawa air dalam keranjang, secara tidak sengaja bunga-bunga ini turut disirami. Maka ia menjadi segar seperti yang kamu lihat sekarang.” Jawab kakek mantap.

“Kau lihatlah pikulan keranjang ini.” Ucap kakek, meletakkan pikulan yang di pundaknya ke bawah.

“Keranjang ini tadinya kotor penuh dengan lumpur. Tetapi kamu isikan air secara berulang-ulang hingga membuat keranjang ini bersih seperti dicuci.” Lanjut kakek.

Alif memerhatikan bunga dan keranjang, lalu bertanya, “Apakah ada hubungannya dengan membaca Al Qur’an, Kek?”  Rupanya ia masih belum paham apa yang dimaksud oleh kakek.

“Begitulah saat kita membaca Al Qur’an. Kita mungkin belum tahu artinya tetapi rutin membaca Al Qur’an akan membersihkan hati-hati kita sebagaimana keranjang kotor tadi. Ia juga akan menghidupkan alam sekitar karena keindahannya. Seperti kamu tadi yang terbuai mendengar bacaan kakek.” Ujar kakek sambil menggosok-gosok kepala Alif.

Alif nyengir.

#odopbatch6
#onedayonepost

Rabu, 26 September 2018

Pesona Pulau Pahawang

Siapa yang tidak ingin ke Raja Ampat? Tempat orang-orang berburu keindahan pantai dan lautan birunya yang memesona. Keindahan alam bawah laut yang membuat takjub indera penglihatan manusia. Ya. Tentu banyak orang ingin mengunjungi Raja Ampat.


Dokumentasi pribadi: Pulau Pahawang
Raja Ampat terletak di ujung Indonesia, tepatnya di Papua Timur. Tarif transportasi menuju kesana bisa menghabiskan jutaan rupiah untuk satu kali penerbangan. Ada yang tidak keberatan merogoh kocek dalam-dalam asal dapat menyaksikan sendiri keindahan bawah laut, Raja Ampat. Namun tidak sedikit pula yang ‘eman-eman’ karena rupiah yang pas-pasan.
Dokumetasi pribadi oleh Ezza Echa Tania
Bagi Anda yang tinggal di daerah Sumatera, Jakarta, dan sebagian pulau Jawa, Anda bisa mengunjungi Pulau Pahawang dengan harga yang sangat terjangkau. Meski lautannya tidak seindah Raja Ampat, namun saya bisa mengatakan bahwa Pulau Pahawang ini KW nya Raja Ampat. Beberapa turis sempat mengatakan hal demikian.

Sumber: https//instagram.kawanngetriplampung
Pahawang terletak di kecamatan Pesawaran, Lampung. Ia bisa ditempuh dengan perjalanan kurang lebih dua jam dari pusat kota Bandar Lampung. Biasanya wisatawan lokal memulai penjelajahan mereka menuju Pahawang melalui dermaga 1 Ketapang. Alasannya, jarak tempuh yang lebih dekat dan butuh waktu singkat, kurang lebih 1 jam. Di dermaga ini kapal-kapal angkutan menepi. Biasanya di dermaga ini sudah disediakan peralatan snorkeling. Kita cukup membayar Rp150.000-Rp180.000 saja (sudah termasuk makan siang, fotografi bawah laut, kapal explore pulau, P3K, dan tour guide. Ini paket selama satu hari. Ada lagi paket private trip. Anda akan disediakan sebuah villa di tengah lautan pulau Pahawang. Sambil berbeque dan menikmati panorama malam di Pulau Pahawang yang sangat indah. Udara segar dan bersih, bulan dan bintang berkilau romantis, lampu-lampu perkotaan terlihat berbulir-bulir.

Sumber: https//instagram.kawanngetriplampung
Disekitar Pahawang ada beberapa pulau-pulau lain yang tidak kalah indahnya. Anda bisa snorkeling di lautan yang cukup dangkal, sekitar 1,5-2 meter kedalamannya. Di Pulau Pahawang kecil, terdapat banyak ikan nemo-nemo berwarna kekuningan dan keoranye-an. Ditambah lagi tanaman-tanaman laut yang menari-nari didasar laut, tempat pesembunyian nemo-nemo. Saran saya, sebaiknya Anda membawa roti tawar dan genggam dibawa snorkeling. Maka tak lama kemudian, Anda akan dihampiri oleh puluhan ikan nemo merebutkan serpihan-serpihan roti Anda.

Sumber: https//instagram.kawanngetriplampung
Tidak puas pada pulau kecil, biasanya tour guide membawa kita ke Pulau Pahawang Besar. Disini ada berbagai icon menarik dan unik tempat yang asyik bagi fotogenik. Bintang laut, ubur-ubur, ikan-ikan berenang secara leluasa. Mereka tidak lagi bersembunyi dan Anda adalah teman baru bagi mereka. Anda bisa beriringan berenang bersama mereka didalam laut. Selain atribut yang disediakan oleh tour guide, Anda mungkin bisa menambah kreasi dengan membuat tulisan sendiri yang telah dilaminating. Selanjutnya Pulau Kelagian dan Pasir timbul. Meski di tengah lautan, kita bisa menapaki daratan berpasir putih bersih dan halus. Ya, itulah mengapa orang-orang setempat menamakannya pasir timbul, karena pasirnya timbul di tengah-tengah lautan. Puluhan pohon bakau tumbuh disekitar pulau ini. Bila Anda berada di pulau ini pada siang hari, Anda harus siapkan kacamata hitam untuk melindungi mata Anda dari silaunya sinar matahari. Tetapi ada kegunaan lain dari kacamata hitam, Anda bisa menjaga mata Anda dari aurat terbukanya para turis bule yang berkunjung.

Begitulah pesona Pulau Pahawang. Eksplorasi snorkeling yang terjangkau, bukan?

Dokumentasi pribadi: lokasi Pulau Pahawang Besar
#tantanganODOP3
#odopbatch6
#onedayonepost
#nonfiksi