Kamis, 17 Oktober 2019

Kau, Aku, dan Secarik Kertas Merah


 Kala napas berikan kehidupan
Aku ingin menghirup aroma ragamu
Melantun ayat-ayat Illahi yang merdu
Menuai, meluluhkan, dan menghempas sepiku

Waktu bersembunyi
Dibalik tirai bernama jarak
Kita terpisah hamparan laut dan tingginya gunung
Ribuan jarak menjadi batas tebal antara kau dan aku

Kau berkabar melalui kertas merah, berhias pita hijau dimuka
Bibirku mengembang,
Jantungku berdegup kencang
Sekejap membaca suratmu
Membawaku terbang ke nirwana terjauh

Tulisan singkat itu membisik lembut,
"Esok aku akan datang,
Bersama ayah bunda tercinta,
Maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku?"
--
Bandar Lampung, 25 Juli 2019 


Rabu, 09 Oktober 2019

Hujanlah Negeri Seribu Pulau


Segumpal awan kelam menutupi kebiruan langit
Angin menderu membawa dedaunan berlari; kesana-kemari
Terlunta tak bertuan
Pasir-pasir terbang tak keruan
Bocah-bocah kecil kelilipan mata dibuatnya
Mengadu pada Sang 'Ayah'
Bahkan  lupa ayahnya hanya sebuah nama

Di negeri seribu pulau ini, gemuruh alam dan pribumi beradu
Sudahlah alam tak lagi bersahabat baik
Hujan yang dinanti tak jua menyapa
Hujan pula airmata bocah karena nasibnya
Mengadu pada Sang 'Ayah'
Bahkan ayah pun seperti tak ada

Lalu, kemana bocah-bocah kecil harus mencari keamanan, ketentraman, dan kesejahteraan bila tak mengadu pada Sang 'Ayah'?
Karena hanya ayahlah yang menahkodai bahtera seribu pulau ini

Kemana ayah-ayah yang pernah berjanji menjaga?
Jangankan menjaga, bahkan suaranya pun tak membela
Bocah kecil hanya menagih janji
Pada ayah yang punya besar kendali

Mengapa ayah ingkar janji?
Tak cukupkah dia lihat hujan airmata pada bocah-bocah tak beralas kaki ini?
Berapa banyak  nyawa harus meregang karena menanti janji-janji yang dikhianati?

Tuhan,
Ajari langsung ayah-ayah itu tentang kehidupan 
Mungkin saja usia tua sudah membuat otaknya pikun

Tuhan,
Turunkanlah hujan yang deras, hapuslah semua derita bocah-bocah
Engkaulah pelipur lara; tumpuan terakhir hati yang dirundung keputusasaan

Bandar Lampung, 9 Okt 2019

Selasa, 08 Oktober 2019

4 Tips Santuy Lulus ODOP Batch 7


Tidak terasa kebersamaan di komunitas literasi One Day One Post (ODOP) genap satu bulan. Ada yang sudah berguguran karena tidak dapat menuntaskan tantangan menulis, berutang tulisan lebih dari tiga, atau ada pula yang mengundurkan diri. Tapi masih banyak juga yang bertahan. Selamat yah! Tinggal beberapa langkah lagi perjalanan panjang akan tiba di tepi. Bersabar dan tetap bersemangatlah.😃

For your information, apa sih yang bisa kita dapatkan setelah lulus dari karantina ODOP? Kok kayakya ngos-ngosan kejar deadlinenya ODOP. Ada juga yang curhat apa ODOP itu begini-begini saja?

Dalam karantina ODOP, ada materi fiksi dan nonfiksi secara bergantian dalam setiap pekan. Lalu, peserta ODOP Batch 7 ada kegiatan bedah karya di grup kecilnya masing-masing; grup Tokyo, Konstantinopel, Nottingham, Sapporo, London, Adelaide, Kairo, dan Valleta. Ya, nama-nama grup kecil ini diambil dari nama sejumlah kota di dunia. Terkait filosofinya, bisa langsung ditanyakan sendiri ke Peje ketjenya masing-masing ya.

Well, kembali ke bahasan setelah lulus ODOP, ngapain? Pasti ada yang bertanya begitu, bukan? Gue akan bahas dari view gue sebagai sesama member ODOP yang baru lulus tepat satu tahun ini.

ODOP sebagai induk memiliki empat anak. Pertama, Ramadhan Writing Challenge (RWC), kegiatan menulis 30 hari atau selama bulan ramadhan sesuai tema yang diberikan oleh Peje. Kedua, Reading Challenge ODOP (RCO), kegiatan membaca selama satu bulan (if I'mnot mistaken) dan diberikan beberapa tantangan seperti meresensi dan membaca buku yang mendapat penghargaan. Ketiga, ODOP Tembus Media (OTM); digawangi oleh Mas Wakhid Syamsudin untuk memotivasi ODOP-ers agar berpacu menulis diberbagai media cetak atau online berbayar. Disini pula diberikan kiat-kiat dan surel-surel media berbayar. Terakhir, Nulis Aja Community (NAC); ini digawangi oleh Mba Hiday Nur, Kak MS. Wijaya, dkk. Di NAC ini para ODOP-ers yang ingin menulis buku solo secara gratiiiissss!! Wow, ODOP lengkap nih. Eh, gue nggak usah terlalu banyak jelasin tentang ODOP, yang penting, kelen lulus dulu saja itu sudah keren.

Nah, sekalian gue mau kasih tips supaya kelen yang sudah separuh jalan berhasil menuju tepi kelulusan. Sudah sebulan ini pasti ada yang sudah membaca ritmenya, deadline, tantangan, BW, bedah karya, dll. Gue pikir, semua jadwal sudah jelas. Tapi bagaimana kalo gue sibuk kerja, ada deadline kerjaan, deadline tugas kampus, deadline-deadline lain yang pengin dimanjain. Nah, untuk itu, mungkin beberapa tips ini bisa kelen coba.

1. Dahulukan Tantangan
Setiap pekan akan selalu ada tantangan. Biasanya tantangan diberikan setelah menerima materi di grup besar. Setelah pengumuman tantangan, bersigaplah untuk menyelesaikannya sesegera mungkin. Mulailah dengan mencari referensi pendukung, berkonsulitasi kepada Peje yang baik hati, dan sharing. Mengerjakan tantangan adalah syarat untuk bisa lanjut kepekan berikutnya. Ingatlah, tantangan maksimal setiap hari Ahad pukul 23.59 WIB.

2. Dua Tiga Tulisan dalam Sekali Duduk
Ada kalanya jadwal aktivitas padat merayap kayak jalanan pas mudik. Tapi ada kalanya juga longgar kayak jalanan di Jakarta pas ditinggal mudik, hehee. Nah, kesempatan waktu longgar jangan disia-siakan. Menulislah dua atau tiga tulisan sebagai stok tulisan. Banyak sekali manfaatnya, kelen bisa berleyeh-leyeh diakhir pekan sambil blogwalking cari inspirasi untuk tulisan-tulisan berikutnya jadi lebih santuy karena kewajiban sudah tertunaikan. Apalagi kalau ada jadwal padat, stok tulisan bisa dijadwalkan diblog, dan tinggal share link. Lebih aman bukan?


3. Hindari Utang Tulisan
Sebisa mungkin kelen hindari utang tulisan apalagi membiarkannya beranak pinak. Toleransi utang setiap pekannya maksimal dua, lho. So, pakai cara kedua diatas, stok tulisan. Bila memang benar-benar tidak memungkinkan sehari satu tulisan, hari esok, segera kerjakan jangan ditunda-tunda lagi. Ingat,
Menunda pekerjaan dihari ini adalah menambah pekerjaan untuk hari esok

4. Kerjakan, Kerjakan, dan Kerjakan
Tidak ada pilihan lain lulus ODOP Batch 7 selain mengerjakan semua tantangan dan memposting tulisan setiap hari. Maka, jurus yang paling makbul adalah jurus mengerjakan.

Ini hanya tulisan berdasarkan pengalaman gue lulus dari Batch 6. Semoga bermanfaat.😃



Kamis, 03 Oktober 2019

Yang Kurindukan


Kupandangi dirinya dari kejauhan. Seperti ada magnet yang hendak menarik pandanganku menujunya. Terus menujunya. Pun kurasakan debaran menguat di jantungku.

Ahh... apakah ini cinta?
Ya. Aku meyakininya. Sejak pertama kali aku bertemu dia.
Entah sudah berapa lama aku meliriknya.

Diam. Kupandangi dalam-dalam.
Tanpa kata. Hanya gumaman dalam batin dan doa yang mengalir begitu saja.

Bahagianya...
Entah bagaimana aku mengungkapkannya. 

Mengungkapkan rasa bahagia yang begitu lega. Menyambangi seluruh pikiranku, serasa aku sedang terbang di antara awan-awan yang mengambang di kebiruan langit. Begitu lembut dan hangatnya perasaan ini.
Wahai Sang Pemilik Alam Semesta, aku sangat menginginkannya.

Aku ingin memilikinya. 

Lama. 
Kupandangi lama sekali. 
Tiada bosan rasanya. Kucatat dia menjadi milikku dalam urutan mimpiku selanjutnya. 
Kuhanya bisa memasrahkan doaku pada Sang Pemilik Kalbu, Sang Pemilik Jagad Raya. 
Yang memberi rasa juga berhak menariknya.
 

**
Waktu cepat berlalu. Tak pernah lagi kupandangi dia. Bahkan menemuinya pun aku tiada. 

Pasrah.. 
Telah kupasrahkan dia bersamaan dengan bait doa dan harapan kala itu.

Hari ini. Entah ada angin apa aku mendekati sekitarannya. Berjalan mencoba mencari yang lainnya, berharap aku dapat menemukan penggantinya.

Sejenak aku tertegun. Perasaan dan debaran itu kembali terasa. 

Masih sangat jelas. 
Kurasa, cinta tak butuh waktu lama untuk mengenali cintanya. 
Kutemui dia masih sama seperti saat itu. Berdiri dengan gagah dan berwibawa diantara kawan-kawannya.

Pun tak butuh waktu lama untuk meyakinkan bahwa dialah yang selama ini dalam doa. 

Yang membuat perasaanku ingin memilikinya.
Sungguh. Tuhan Maha Baik. Kesempatan ini takkan pernah kusiakan lagi. 
Aku tak sanggup kembali tanpa dirinya. 
Aku ingin membawanya serta bersamaku. 
Oh, sepatu yang kurindukan... 😄😄😄😄

Rajabasa, Bandar Lampung, 6 Mei 2018

Rabu, 02 Oktober 2019

Nilai Anjlok



Gendhuk Nicole seorang anak yang pintar di kampungnya. Saking pintarnya, tidak pernah nilai raportnya dibawah angka 8. Nicole akhirnya melanjutkan kuliah perguruan tinggi ke universitas di Solo.

Satu semester berlalu. Sudah menjadi tradisi universitas tersebut setiap mahasiswa baru harus membawa orang tua untuk konseling saat pengambilan Kartu Hasil Studi (KHS).

Gendhuk Nicole mengajak Jon Koplo, ayahnya dari kampung dan oleh Tom Gembus, pamannya.

Mahasiswa beserta orangtua bergiliran dipanggil namanya satu persatu. Tibalah nama Gendhuk Nicole menemui Lady Cempluk, dosen  pembimbing Gendhuk Nicole.






Dengan pede, Jon Koplo masuk ke ruang dosen, memandang segala penjuru ruang dan memberi senyuman kepada setiap dosen.


“Gendhuk Nicole ini anak yang cerdas ya. Belajar lebih giat lagi,” ujae Lady Cempluk sambil menyodorkan KHS kepada Jon Koplo.

Jon Koplo menatap seksama nilai di KHS, membolak-balik kertas yang hanya selembar itu. "ini nilai anakku, Bu?" tanya Koplo heran. "Iya, ini nilai satu semester Gendhuk Nicole, Pak."

"Bagaimana ini, jauh-jauh aku kuliahkan masak mendapat nilai 4. Kamu SMA dulu mendapat 8 atau 9 semua. Sudahlah, SMA lagi saja, Nduk," ucap Jon Koplo kecewa sambil memegang kening.

"Aduh, aku menemani bapakmu ke kota kok nilaimu jelek sekali, malu aku," ujar Tom Gembus menambahi.


Gendhuk Nicole hanya menangis merasa bersalah.


“Sudah.. sudah..! Tenang, ya! Dengar dulu! Nilai atau IP kuliah maksimal 4,00, Pak. Gendhuk Nicole mendapat nilai tertinggi di kelas.” Ucap Lady Cempluk dengan nada agak meninggi.


Jon Koplo memandangi sekelilingnya nyengir.

“Owalah, Gusti... Gusti...”, ujar Koplo.

Dosen lain di ruangan hanya tertawa melihat tingkah keluarga Jon Koplo.

Ezza Tania
Tanjung Karang Timur, Bandar Lampung
  
Dimuat di Koran Solopos edisi  28 September 2019